BAB I
ILMU DAN FILSAFAT
Dalam beberapa hal, istilah ilmu dan pengetahuan terkadang disamakan. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat tidak ditemukannya terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia kecuali pengetahuan. Kata ‘ilmu’ yang berasal dari bahasa Arab, arti dasarnya adalah kejelasan. Sehingga setiap devariasi kata ‘ilmu’ mengandung unsur kejelasan. Dengan demikian, ‘ilmu’ dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Dari gambaran di atas, dapat ditemukan perbedaan sekaligus hubungan antara ‘ilmu’ dan pengetahuan. ‘Ilmu’ diawali oleh adanya pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’ jika mengandung unsur ‘jelas’. Karena ada syarat ‘jelas’ yang harus dipenuhi agar pengetahuan menjadi ilmu maka tidak semua pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’. Sesuatu disebut jelas karena mempunyai ciri, tanda, sistematika, terukur, terbuka, universal, dan objektif. Ilmu bagaikan sapu lidi, yang tersusun dari lidi-lidi yang sudah diraut, dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat-tempat lain yang belum tersusun baik. Jadi, ilmu adalah sebagian pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Induk ilmu adalah filsafat. Kerja filsafat sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak dipenuhi dengan fenomena- fenomena kecenderungan mereka terhadap filsafat. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar tentang sesuatu yang harus dijawab dengan jawaban yang sangat jelas tanda-tandanya, prosesnya, sebab akibatnya, awal akhirnya, dan harus disampaikan dengan pemilihan kata yang jelas.
Setiap kita, manusia dewasa, pasti sudah melewati masa kanak-kanak dan pasti pernah atau sering atau bahkan sangat sering mempertanyakan tentang sesuatu. Contoh pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya:
1. Ketika ibu saya mengandung, saya bertanya: “Bagaimana adik bayi ada di perut ibu?”,
2. “Ketika ibu dan bapak masih kecil, saya di mana?”,
BAB I
ILMU DAN FILSAFAT
Dalam beberapa hal, istilah ilmu dan pengetahuan terkadang disamakan. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat tidak ditemukannya terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia kecuali pengetahuan. Kata ‘ilmu’ yang berasal dari bahasa Arab, arti dasarnya adalah kejelasan. Sehingga setiap devariasi kata ‘ilmu’ mengandung unsur kejelasan. Dengan demikian, ‘ilmu’ dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Dari gambaran di atas, dapat ditemukan perbedaan sekaligus hubungan antara ‘ilmu’ dan pengetahuan. ‘Ilmu’ diawali oleh adanya pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’ jika mengandung unsur ‘jelas’. Karena ada syarat ‘jelas’ yang harus dipenuhi agar pengetahuan menjadi ilmu maka tidak semua pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’. Sesuatu disebut jelas karena mempunyai ciri, tanda, sistematika, terukur, terbuka, universal, dan objektif. Ilmu bagaikan sapu lidi, yang tersusun dari lidi-lidi yang sudah diraut, dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat-tempat lain yang belum tersusun baik. Jadi, ilmu adalah sebagian pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Induk ilmu adalah filsafat. Kerja filsafat sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak dipenuhi dengan fenomena- fenomena kecenderungan mereka terhadap filsafat. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar tentang sesuatu yang harus dijawab dengan jawaban yang sangat jelas tanda-tandanya, prosesnya, sebab akibatnya, awal akhirnya, dan harus disampaikan dengan pemilihan kata yang jelas.
Setiap kita, manusia dewasa, pasti sudah melewati masa kanak-kanak dan pasti pernah atau sering atau bahkan sangat sering mempertanyakan tentang sesuatu. Contoh pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya:
1. Ketika ibu saya mengandung, saya bertanya: “Bagaimana adik bayi ada di perut ibu?”,
2. “Ketika ibu dan bapak masih kecil, saya di mana?”,
3. Ketika adik saya berusia 2,5 tahun meninggal, saya bertanya : “Mengapa dia meninggal?”,
4. “Kemana kita setelah meninggal?”,
5. “Apa/siapakah saya?” “Mengapa saya dilahirkan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta jawaban yang tidak cukup dengan satu kata atau satu pernyataan. Bahkan terkadang tidak cukup dengan satu periode tertentu. Misal: jawaban pertanyaan pertama mungkin baru relative dapat dipahami dengan standar relative benar ketika seorang manusia sudah sampai pada periode dewasa atau bahkan baru dapat disampaikan dengan jelas ketika periode kanak-kanak sudah terlewati. Sehingga ketika menonton tayangan iklan di televisi anak saya yang berusia 7 tahun berkata: “Umi, coba minum susu prenagen biar aku punya adik!”, saya hanya tertawa dan membayangkan anak saya kelak di masa dewasanya juga tertawa mentertawakan usulannya di masa kecil.
Pertanyaan kedua (“Ketika bapak dan ibu masih kecil, saya ada di mana?”) tidak cukup dengan jawaban belum ada. Karena bisa jadi disusul lagi dengan pertanyaan: “Asalku apa, dari mana, bagaimana asalku, dan sebagainya.
Jawaban pertanyaan “Mengapa dia meninggal?” yang dilontarkan ibu adalah “Karena adikmu sakit”.
“Mengapa adik temanku sakit tapi tidak meninggal, padahal sama-sama ke rumah sakit. Adik temanku pulang dalam keadaan sehat sedangkan adikku pulang dalam keadaan sudah meninggal?”
Saya tidak benar-benar ingat apa jawaban ibu saat itu. Yang jelas, ketika anak saya mengajukan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan masa kecil saya dulu (“Mengapa seseorang meninggal?”), saya jawab: “Karena sudah waktunya”.
Jawaban pertanyaan saya yang keempat (“Kemana kita setelah meninggal?”) membuat saya sering sulit tidur dan terbangun di tengah malam karena ketakutan. Ibu menjelaskan bahwa setelah kita meninggal, kita akan dihidupkan kembali dan hidup terus menerus. Kata-kata hidup terus begitu mengerikan, melelahkan, mengesalkan, dan menakutkan. Sebuah persepsi negatif tentang hari akhirat yang barangkali dipengaruhi oleh komik-komik yang saat itu beredar. Di dalamnya digambarkan manusia-manusia yang disiksa di neraka seperti disetrika punggung bagi yang tidak berpuasa, dililit ular besar bagi yang tidak shalat, digunting lidahnya dan tumbuh lagi kemudian digunting lagi dan seterusnya tiada berkesudahan. Gambaran tersebut lebih menempel kuat di benak kanak-kanak saya disbanding gambaran keindahan surganya yang mungkin juga digambarkan secara tidak seimbang.
Pertanyaan kelima (“Apa/siapakah saya, untuk apa saya dilahirkan?”) inilah yang sampai saat sekarang masih terus dicari jawaban sejatinya. Dari jawaban yang bersumber dari materi maupun ide, dari akal maupun persepsi wahyu, masih menimbulkan pertanyaan lanjutan. Karena bisa jadi pemahaman saya masih kanak-kanak. Atau pihak-pihak yang menjawabnya belum bisa menjelaskan persepsi mereka dengan bahasa yang bisa memuaskan persepsi saya. Barangkali saya hanya bisa menunggu saat-saat saya mentertawakan pertanyaan saya yang mungkin lucu itu. Kapankah itu? Bisa jadi hanya kelak di akhirat hakikat itu hanya akan terungkap.
Itulah kerja filsafat, sebuah usaha untuk mengungkap tentang hakikat atau inti mutlak sesuatu yang bersifat sangat dalam (radix).
Cerita panjang di atas hanya bermaksud mengungkapkan persepsi saya tentang kerja fikir yang sering tiada habisnya. Karena bukankah itu letak kemuliaan manusia dibanding makhluk Allah lainnya: berfikir tiada henti menghasilkan ilmu.
Ilmu, dengan berbagai cabangnya, terus berkembang. Tapi sejalan dengan perkembangan itu, ilmu sebagai gejala yang makin nyata dalam kehidupan manusia terus menerus dan makin dipersoalkan serta dipelajari. Ini menunjukkan bahwa orang tidak puas dengan jawaban yang ada. Sementara orang masih belum puas juga dengan keterangan yang diberikan mengenai ilmu, persoalan baru sudah timbul. Sehingga, pada awalnya ilmu hampir identik dengan pengetahuan, lama kelamaan ilmu makin membedakan dirinya dengan pengetahuan. Ketika disadari bahwa ilmu itu berbeda dengan pengetahuan dan makin rumit tanda-tanda gejalanya, maka hakikat ilmu pun mulai dipertanyakan. Maka berkembanglah filsafat ilmu.
Filsafat ilmu tentu saja berlainan dengan ilmu filsafat. Jika ilmu filsafat adalah ilmu yang objek kajiannya filsafat, maka filsafat ilmu justru objek kajiannya adalah ilmu. Dalam filsafat ilmu dikaji secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, sehingga filsafat ilmu perlu dimulai dari pertanyaan yang paling mendasar seperti: Apa ilmu? Bagaimana wujud hakiki ilmu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan landasan ontologis. Selain pertanyaan landasan ontologis, perlu dijawab pula pertanyaan landasan epistimologis: Bagaimana ilmu didapat? Sumber ilmu itu apa? Bagaimana prosedur dan mekanismenya? Cara/teknik/sarana apa yang digunakan? Masih belum cukup dengan dua pertanyaan landasan tersebut, filsafat ilmu pun perlu menjawab pertanyaan landasan aksiologis: untuk apa ilmu tersebut digunakan? Bagaimana kaitan antara hal-hal yang dilakukan, dihasilkan, dan digunakan dengan kaidah-kaidah moral: etika dan estetika?
BAB II
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Hampir bisa dipastikan, setiap masyarakat memiliki atau setidaknya pernah memiliki mitos tertentu. Mitos-mitos yang saya tahu ketika masa kanak-kanak dulu diantaranya tidak boleh berkeliaran waktu sareupna (saat-saat menjelang matahari terbenam), nanti ditangkap sandekala, tidak boleh mandi di tampiyan (sumur) sawah tengah hari, nanti kasambet, kalau ada gempa orang-orang sibuk memukul kentongan sambil berteriak: “ Aya…aya…aya” sedangkan bapakku mengucapkan lailaha illallah berulang-ulang. Dulu orang-orang tua mengatakan bahwa suatu saat nanti dari kampung ke kecamatan (jaraknya 6 km) bisa ditempuh hanya dengan sekejap mata (waktu itu ditempuh dengan dua jam lebih perjalanan kaki). Sekarang memang terbukti hanya 15 menit waktu yang diperlukan.
Itulah mitos. Intinya memuat kepercayaan tentang adanya suatu eksistensi yang lain di balik wujud sesuatu. Keyakinan adanya keberadaan sesuatu di balik keberadaan alam ini beserta semua fenomenanya.
Rasa ingin tahu menjadi salah satu ciri manusia yang berakal dan berfikir dengan akalnya. Maka dia menjadikan alam dengan segala fenomenanya sebagai objek kajian dan penelitian. Terkadang mitos merupakan alat sederhana yang efektif untuk menjaga kelestarian alam dan keselamatan hidup manusia. Dengan “pamali” (larangan) mengambil hasil-hasil hutan larangan baik berupa floranya maupun faunanya, membuat kelestarian alam bisa dijaga, banjir longsor bisa dicegah, pemanasan global bisa ditunda. Kepercayaaan bahwa suatu saat jarak tempuh yang membutuhkan waktu tempuh lama menjadi sebentar membuat semangat menemukan dan menciptakan sesuatu, ataupun hanya sekedar menggunakan fasilitas tertentu. Dengan mobil misalnya. Sakitnya seseorang setelah mandi di sumur sawah saat matahari terik yang mereka sebut dengan istilah kasambet menjadi bisa dirasionalisasi dengan teori bahwa hal itu merupakan ungkapan kekagetan badan yang sedang panas disiram unsur air yang dingin.
Gambaran diatas bermaksud mengungkapkan manfaat-manfaat mitos yang setelah melalui proses pengambilan hikmah, pengertian dan rasionalisasi menjadi dasar ditemukannya pengetahuan dan pemahaman. Proses kajian dan penelitian sehingga sesuatu bisa dirasionalisasi merubah mitos menjadi logos (ilmu). Pengambilan hikmah dari suatu mitos menghasilkan kepantasan dan kelayakan yang menjadi sebuah system nilai yang didalamnya berisi baik dan buruk. Sistem nilai inilah yang menjadi dasar lahirnya suatu peradaban.
Intinya, karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri , timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan dalam pikirannya; dari mana datangnya alam ini, bagaimana kejadiannya, bagaimana kemajuannya dan kemana tujuannya? Pertanyaan semacam inilah yang selalu menjadi pertanyaan di kalangan filosof Yunani (dimulai pada sekitar abad IX SM). Karena perhatian mereka yang begitu besar pada alam, tidaklah mengherankan jika kemudian mereka juga disebut dengan filosof alam.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM), sehingga ia digelari Bapak Filsafat. Ia mempertanyakan : “Apa sebenarnya asal usul ala mini?”. Pertanyaan ini sangat mendasar. Terlepas apapun jawabannya, namun yang penting harus dijawab dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal ala mini adalah air.
Setelah Thales, muncul Anaximandros (610-540). Ia menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Karena itu ia tidak puas dengan menunjukkan salah satu anasir sebagai prinsip alam misal: air. Tetapi dia mencari yang lebih dalam yaitu zat yang tidak dapat diamati oleh panca indera.
Berbeda dengan Thales dan Anaximandros. Heraklitos (540-480 SM) melihat alam semesta ini selalu berubah. Karena itu dia berkesimpulan, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar ada. Semuanya menjadi. Ia berkesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahannya melainkan actor dan penyebabnya. Yaitu api.
Filosof alam yang cukup berpengaruh adalah Parmenides (515-440 SM). Pandangannya bertolak belakang dengan Heraklitos. Menurutnya, realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Yang ada itu ada. Inilah kebenaran. Gerak alam yang terlihat adalah semu. Sejatinya alam itu diam.
Pythagoras (580-500 SM) mengembalikan sesuatu kepada bilangan. Bilangan adalah unsure utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Jasa Pythagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu terutama ilmu pasti dan ilmu alam.
Setelah berakhirnya masa para filosofi alam, maka muncul masa transisi. Penelitan terhadap alam tidak menjadi focus utama tetapi sudah menjurus kepada penyelidikan tentang manusia. Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Timbullah kaum “Sofis”. Kaum Sofis memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). Ia menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat subjektif dan relative sehingga tidak akan ada ukuran yang absolute dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori matematika tidak dianggapnya mempunyai kebenaran yang absolute.
Tokoh lain dari kaum Sofis adalah Gorgias (483-375 SM). Menurutnya ada tiga proposisi: pertama, tidak ada yang ada. Kedua, bila sesuatu itu ada tidak akan dapat diketahui. Karena penginderaan itu sumber ilusi. Akal pun telah diperdaya oleh dilemma subjektifitas. Dan ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Pengaruh positif gerakan kaum Sofis membangkitkan semangat berfilsafat. Mereka mengingatkan bahwa persoalan pokok filsafat bukanlah alam melainkan manusia. Mereka membangkitkan jiwa humanisme. Tidak adanya jawaban final tentang etika, agama, dan metafisika membuka peluang bagi para folosof untuk lebih kreatif lagi berfikir. Ilmu mendapat ruang yang sangat kondusif karena diberi ruang untuk berspekulasi dan sekaligus merelatifkan teori sehingga muncul sintesa baru. Dalam filsafat ilmu, pandangan relative tentang kebenaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses mencari ilmu. Karena itu, ilmu itu terbatas, tetapi mencari ilmu tidak terbatas.
Namun Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum Sofis. Menurut mereka, ada kebenaran objektif yang bergantung kepada manusia. Dengan metode dialog yang dilakukan Socrates tentang sebuah konsep, ditemukanlah kebenaran universal.
Socrates berpendapat bahwa dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Sehingga pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri.
Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara flsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM): murid Socrates. Menurut Plato kebenaran itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam ide. Ia mensintesakan antara pandangan Heraklitos dan Parmenides. Ia berpendapat, pandangan Heraklitos benar tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja. Sedangkan pendapat Parmenides juga benar tetapi hanya berlaku bagi ide-ide yang bersifat abadi. Ide inilah yang menjadi dasar bagi pengenalan yang sejati.
Puncak kejayan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu system: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Ia yang pertamakali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Pembagian inilah yang menjadi pedoman bagi klasifikasi ilmu di kemudian hari. Aristoteles dianggap Bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.
Begitulah awal perjalanan filsafat yang melahirkan perkembangan ilmu sampai ke masa kita sekarang ini. Hanya saja perkembangan ilmu ternyata tidak berarti mutlak sebagai rahmat bagi kehidupan manusia. Tidak jarang kemajuan ilmu dan teknologi yang terus berlangsung, membawa dampak negative baik materil maupun spiritual.
BAB III
METAFISIKA
Saya mahasiswa S2 STAIN Cirebon. Tentu saja sudah menyelesaikan program S1. Bermacam-macam pendapat orang mengatakan tentang latar belakang di balik kesarjanaan saya. Orang tua beranggapan bahwa suksesnya saya menjadi sarjana adalah karena satu hal yaitu keinginan yang kuat (idea). Ditandai dengan saya tetap mau sekolah walaupun tidak pernah didaftarkan orang tua untuk masuk ke jenjang sekolah manapun, tetap semangat walaupun ke sekolah memakai seragam bekas ataupun baju main tanpa alas kaki, tetap rangking satu walaupun hampir tak pernah dibelikan buku-buku, tetap mau melanjutkan ke SMP walaupun teman-teman perempuan SD yang lain memilih menikah, tetap semangat walaupun harus menempuh jarak 6 km dengan berjalan kaki untuk bisa sampai ke SMP, tetap bisa menyelesaikan SMA walaupun dengan bekal seadanya, tetap menyelesaikan S1 dengan nilai cum laude walaupun tidak didukung dengan sarana materi yang relative memadai.
Lain pendapat orang tua lain pula pandangan orang-orang sekarang. Contoh: adik. Ia berpendapat kesarjanaan saya karena biaya pendidikan (materi) yang relative murah. Karena zaman sekarang, di mana keberadaan materi menjadi sesuatu yang mutlak dalam segala hal, tidak akan berhasil sebuah proses tanpa ada materi yang melatarbelakanginya.
Saya fikir, bisa jadi memang keinginan yang kuat memang suatu eksistensi di balik terwujudnya kesarjanaan saya. Tetapi bagaimana jika keinginan yang kuat itu tidak dibarengi dengan selusin buku tulis hadiah rangking satu yang didapatkan setiap tahun ketika SD? Apakah bisa tetap eksis di SMP tanpa buku-buku paket bekas kakak kelas? Apakah bisa menyelesaikan SMA dengan kondisi jauh dari orang tua tanpa tinggal di Pondok Pesantren dengan biaya yang sangat murah? Apakah bisa meraih gelar sarjana tanpa bantuan hasil ‘ngeles” ngaji anak-anak dosen ?
Kira-kira begitulah metafisika. Berasal dari bahasa Yunani, meta=di balik/sesudah, pyisika=nyata, kongkrit, dapat diukur dan dijangkau panca indra. Jadi metafisika adalah sebuah kajian terhadap eksistensi yang ada di balik sesuatu yang wujud. Pertanyaan-pertanyaan: Apakah ilmu yang sekarang eksis memiliki hubungan dengan dimensi metafisik? Bagaimana ilmu harus bersumber? Apakah murni fisik empiris? Atau ada kajian lain yang lebih mendalam? Merupakan pertanyaan-pertanyaan yang penting dalam kajian metafisika dalam rumpun filsafat ilmu.
Aristoteles menganggap metafisika akan dan harus berpusat pada persoalan ‘barang’ dan ‘bentuk’. Bentuk sebagai pengganti idea yang digagas Plato dan berada di balik fisik.
Metafisika dapat digunakan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat tertinggi atau terdalam dari keadaan atau kenyataan yang tampak. Melalui kajian ini penyebab pertama dari segala yang ada akan dikaji, sehingga manusia diharapkan dapat kembali kepada fitrah dasarnya sebagai hamba Allah. Ia akan dituntu memiliki tanggungjawab dan kewajiban dalam berbagai sisi kehidupan.
Secara umum metafisika dapat dibagi menjadi metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum sering diistilahkan dengan ontology. Di dalam pemahaman ontology dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:
1. Monoisme, menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Paha mini kemudian terbagi ke dalam dua aliran :
a. Materialisme, mengangap bahwa sumber yang asal itu materi bukan rohani.
b. Idealisme, dinamakan juga spiritualisme, menganggap bahwa sumber yang asal itu ide atau sesuatu yang bersifat ruh.
2. Dualisme, berpendapat bahwa hakikat yang asal dari sesuatu itu bersumber dari dua: materi dan ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
3. Pluralisme,berpandangan bahwa kenyataan ini terdiri dari banyak unsur.
4. Nihilisme, tidak mengakui validitas yang positif, realitas itu sebenarnya tidak ada.
Sedangkan metafisika khusus adalah cabang filsafat yang mengkaji dan membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia. Setidaknya ada tiga bidang kajian metafisika khusus:
1. Kosmologi. Cabang filsafat yang membicarakan hakikat atau asal-usul alam semesta.
2. Teologi. Mengkaji eksistensi Tuhan yang bebas dari ikatan agama.
3. Antropologi. Cabang filsafat yang membicarakan tentang manusia.
BAB IV
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Rasa ingin tahu merupakan ciri khusus manusia yang membedakannya dari makhluk Allah yang lain. Karena rasa ingin tahu itulah pengetahuan manusia berawal dan berkembang. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival).
Pengetahuan dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga kelangsungan hidupnya. Lebih dari itu, hal-hal baru dipikirkan manusia karena manusia hidup bukan hanya untu kelangsungan hidup. Namun kebudayaan pun dikembangkan sehingga memberi makna kepada kehidupan. Manusia “memanusiakan diri dalam hidupnya”. Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya manusia mempunyai tjuan tertentu dalam hidupnya yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidup.
Proses perkembangan pengetahuan tidak akan berhenti selama manusia berfikir. Hatta dalam kondisi yang sudah berkembang pun tidak dilupakan kajian terhadap aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu. Kajian ini perlu dilakukan karena didasarkan pada: 1) Adanya perbedaan pandangan di kalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu; 2) Perbedaan ini ternyata menimbulkan konsekuensi pada perbedaan paradigma yang dianut masing-masing komunitas masyarakat dalam memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Dunia Islam misalnya. Para filosof dan saintisnya, ternyata memiliki paradigma yang khusus dalam merumuskan smber ilmu pengetahuan. Berkembang pemikiran di kalanga mereka bahwa sumber utama ilmu pengetahuan itu adalah wahyu yang termanifestasikan dalam bentuk Al-Quran dan sunnah.
Berbeda dengan para filosof dan saintis Barat pada umumnya. Menurut pandangan mereka sumber ilmu pengetahuan itu adalah : Rasio/akal dan pengalaman/empiris. Mereka tidak menjadikan intuisi sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Mengapa perbedaan dalam penentuan sumber ilmu pengetahuan itu terjadi? Boleh jadi karena dipengaruhi oleh kondisi dan motivasi yang melatarbelakangi kedua komunitas ini. Kondisi dunia Barat yang dalam cengkeraman gereja menjadi motivasi pembebasan diri dari doktrin-doktrin gereja. Sedangkan bagi filosofis Muslim melahirkan ilmu justeru atas dorongan dan spirit wahyu. Sehingga Islam selain memperkenalkan sumber empiris dan rasional sebagai sumber ilmu pengetahuan, juga memperkenalkan sumber lainnya yaitu wahyu dan intuisi dengan penjelasan sebagai berikut;
1. Empirisme/pengalaman, manusia memperoleh pengetahuan bersumber dari
pengalaman inderawi. Namun aliran ini mempunyai banyak kelemahan antara lain:
a. Keterbatasan indera: Benda yang jauh kelihatan kecil.
b. Indera menipu: menurut orang yang sakit, gula terasa pahit.
c. Objek yang menipu: fatamorgana.
d. Berasal dari indera dan objek sekaligus: Mata tidak mampu melihat kerbau secara keseluruhan, dan kerbau juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.
2. Rasionalisme/akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Dengan menggunakan akal, kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan indera dapat dikoreksi. Tetapi rasionalisme juga mempunyai kelemahan. Seperti: kriteria untuk mengetahui kebenaran suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya tetapi menurut orang lain tidak.
Dari dua aliran tersebut (empirisme dan rasionalisme) lahirlah metode ilmiah atau pengetahuan sains. Panca indera mengumpulkan data sedangkan akal menyimpulkan berdasarkan prinsip-prinsip universal.
3. Intuisi dan wahyu.
Intuisi merupakan hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Merupakan sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika, bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
Berbeda dengan intuisi, wahyu adalah pengetahuan yang diperoleh manusia melalui pemberian Tuhan secara langsung kepada hambaNya yang terpilih: Nabi dan Rasul.
Dari ketiga aliran di atas, kita bisa bayangkan bahwa tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar. Paradigma kebenaran akan berbeda antara teori satu dengan teori lainnya.
Teori Koherensi
Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk dari hubungan fakta atau realita tetapi dari hubungan putusan-putusan yang baru dengan putusan-putusan yang lainnya. Jadi, antara putusan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan. Dengan demikian, suatu teori dianggap benar apabila tahan uji. Artinya, suatu teori yang sudah dicetuskan oleh seseorang, diuji oleh orang lain.
Teori Korespondensi.
Menurut teori ini, sebuah pengertian disebut kebenaran apabila terdapat suatu fakta atau realita yang selaras dengan situasi aktual. Dengan demikian kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada realitas objektif.
Teori Pragmatisme.
Menurut teori ini, benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata tergantung kepada asas manfaat, kegunaan, atau pengaruhnya yang memuaskan. Yang dimaksud dengan hasil yang memuaskan adalah:
1. Sesuatu itu benar apabila memuaskan keinginan dan tujuan manusia.
2. Sesuatu itu benar apabila dapat diuji benar dengan eksperimen.
3. Sesuatu itu benar apabila ia mendorong atau membantu perjuangan biologis ntuk tetap ada.
BAB V
METODE BERPIKIR ILMIAH
Metode: cara., langkah-langkah, teknik. Ilmiah: bersifat keilmuan, secara pengetahuan. Metode berpikir ilmiah adalah cara, teknik, prosedur memperoleh pengetahuan melalui kerangka kerja ilmiah yang sistematis. Dilakukan agar ilmu berkembang dan tetap eksis serta mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi.
Metode ilmiah adalah suatu prosedur atau cara ternetu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesa yang ditentukan sebelumnnya. Metode ilmiah dipengaruhi unsure alam yang berubah dan bergerak secara dinamis dan teratur. Asas tunggal alam (natural law) menjadi salah satu sebab adanya ketertiban alam. Corak metode yang bersandar pada alam yang dinamis dan teratur menyebabkan lahirnya ilmu pengetahuan dengan sifat kecenderungan yang positivistic.
Ditemukannya metode berpikir ilmiah, secara langsung telah menyebabkan terjadinya ledakan kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Manusia tidak lagi berpangku tangan terhadap kehendak alam. Kesanggupan mengembangkan pengetahuan inilah letak perbedaan manusia dengan binatang. Jadi, nilai guna metode berpikir ilmiah adalah agar manusia terus menerus mengembangkan pengetahuan.
Metode ilmiah digunakan kaum terdidik untk memecahkan masalah. Lain dengan kaum awam. Mereka menggunakan cara kerja yang biasanya tidak sistematis dan sering bernuansa subjektif. Kaum terdidik menyelesaikan masalah dengan prosedur berpikir ilmiah dengan karakteristik yang bersifat rasional (deduktif) dan teruji secara empiris (induktif).
Sikap ilmiah merupakan bagian penting dari prosedur berpikir ilmiah yang meliputi enam karakteristik:
1. Rasa ingin tahu sebagai pemicu.
2. Spekulatif untuk menguji hipotesis.
3. Objektif.
4. keterbukaan untuk mempertimbangkan semua masukan yang relevan.
5. Kesediaan untuk menunda penilaian jika penyelidikan belum memperoleh bukti yang diperlukan.
6. Tentatif, tidak bersifat dogmatis terhadap hipotesis atau simpulan.
Untk mencapai apa yang disebut benar,seorang peneliti melakukan aktivitas ilmiah dengan beberapa langkah sebagai berikut:
1. Menyusun sesuatu yang disebut sebagai masalah.
2. Merumuskan masalah dalam bentuk yang operasional.
3. Menyusun hipotesa.
4. Menetapkan teknik dan menyusun instrument penelitian.
5. Mengumpulkan data yang diperlukan.
6. Melakukan analisa data.
7. Menggambarkan kesimpulan.
Dalam melaksanakan penelitian, para ilmuwan mempunyai dua aspek: individual dan sosial.
a. Aspek individual mengacu pada ilmu sebagai aktivitas ilmuwan.
b. Aspek sosial mengacu pada ilmu sebagai aktivitas suatu komunitas ilmiah dan kumpulan para ilmuwan.
BAB VI
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Kegiatan berpikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah. Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Berpikir ilmiah adalah berpikir dengan langkah-langkah metode ilmiah seperti: perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literature, menguji hipotesis, menarik kesimpulan. Semua langkah-langkah berpikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat/sarana yang baik sehingga diharapkan hasil berpikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat Bantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmia secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.
Ditinjau dari pola berpikir maka ilmu ilmu merupakan gabungan antara pola berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kea rah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peeranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan berpikir ilmiah tersebut.
Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana berpikir berupa: Bahasa, logika, matematika, dan statistic.
BAB VII
ETIKA
Etika adala salah satu unsure penting yang terdapat dalam teori nilai. Kata teori nilai yang terdiri dari dua kata yakni teore dan nilai itu, tampaknya merupakan terjemahan dari bahasa yunani: logos (akal dan teori0 dan aksios (nilai, atau suatu yang berharga).
Para ahli filsafat sering menyebut teori nilai sama dengan aksiologi. Seperti diketahui bahwa aksiologi merupakan bagian dari tiga cabanga besar Filsafat ilmu, yakni: ontology, epistemology, dan aksiologi. Aksiologi sering disebut sebagai ilmu yang melakukan penyelidikan mengenai kodrat, criteria dan status metafisik dari nilai.
Nilai memiliki cirri dan karakter khusus. Setidaknya, dalam catatan Filsafat ilmu, nilai memiliki tiga cirri, yaitu :
1. Nilai dan subjek
2. Sikap Praktis
3. Sikap Pandang Subjektif
BAB VIII
ESTETIKA
Estetika sering terkait dengan persoalan seni dan rasa keindahan. Estetika merupakan bagian dari tri tunggal, yakni teori tentang kebenaran (epistimologi), kebaikan dan keburukan (etika) dan keindahan itu sendiri (estetika).
Estetika berbicara mengenai hakikat keindahan. Selain itu estetika juga berbicara tentang teori mengenai seni, seni yang melukiskan bahasa dan perasaan.
Dengan demikian, estetika berarti suatu teori yang meliputi:
1. penyelidikan mengenai yang indah
2. Penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni
3. Pengalaman yang bertalian dengan seni, penciptaan seni, penilaian terhadap seni, atau perenungan terhadap seni.
BAB IX
BAHASA ILMIAH
Bahasa dicirikan sebagai:
1. Serangkaian bunyi yang digunakan sebagai alat komunikasi
2. Lambang dari serangkaian bunyi yang membentuk arti tertentu
Dengan bahasa manusia dapat mengkomunkasikan segenap pengalaman dan berpikir mereka. Pengalaman dan pemikiran yang berkembang membuat bahasa pun ikut berkembang.
Kemampuan bahasa adalah bagaimana anak mengkontruksi pengetahuannya dan bisa menyampaikan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan berbahasa adalah salah satu keunikan manusia.
Bahasa bagi manusia berfungsi sebagai:
1. Alat komunikasi atau fungsi komunikatif
2. Alat budaya, yang mempersatukan manusia yang menggunakan bahasa tersebut atau fungsi kohesif.
Di dalam fungsi komunikatif bahasa terdapat tiga unsur bahasa yang digunakan untuk menyampaikan : perasaan (unsure emotif), sikap (unsure afektif), dan buah pikiran (unsure penalaran). Perkembangan bahasa dipengaruhi ketiga unsur ini.
Perkembangan ilmu dipengaruhi oleh fungsi penalaran dan komunikasi bebas dari pengaruh unsure emotif. Sedangkan perkembangan seni dipengaruhi oleh unsure emotif dan afektif.
Syarat komunikasi ilmiah adalah ;
1. bahasa harus bebas emotif
2. reproduktif artinya komunikasinya dapat dimengerti oleh yang menerima
kekurangan bahasa terletak pada :
1. peranan bahasa yang multifungsi, artinya komunikasi ilmiah hanya menginginkan penyampaian buah pikiran atau penalaran saja, sedangkan bahasa verbal harus mengandung unsur emotif, afektif dan simbolik
2. arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang mengandung bahasa.
3. konotasi yang bersifat emosional
Rabu, 06 Januari 2010
BAB I
ILMU DAN FILSAFAT
Dalam beberapa hal, istilah ilmu dan pengetahuan terkadang disamakan. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat tidak ditemukannya terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia kecuali pengetahuan. Kata ‘ilmu’ yang berasal dari bahasa Arab, arti dasarnya adalah kejelasan. Sehingga setiap devariasi kata ‘ilmu’ mengandung unsur kejelasan. Dengan demikian, ‘ilmu’ dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Dari gambaran di atas, dapat ditemukan perbedaan sekaligus hubungan antara ‘ilmu’ dan pengetahuan. ‘Ilmu’ diawali oleh adanya pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’ jika mengandung unsur ‘jelas’. Karena ada syarat ‘jelas’ yang harus dipenuhi agar pengetahuan menjadi ilmu maka tidak semua pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’. Sesuatu disebut jelas karena mempunyai ciri, tanda, sistematika, terukur, terbuka, universal, dan objektif. Ilmu bagaikan sapu lidi, yang tersusun dari lidi-lidi yang sudah diraut, dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat-tempat lain yang belum tersusun baik. Jadi, ilmu adalah sebagian pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Induk ilmu adalah filsafat. Kerja filsafat sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak dipenuhi dengan fenomena- fenomena kecenderungan mereka terhadap filsafat. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar tentang sesuatu yang harus dijawab dengan jawaban yang sangat jelas tanda-tandanya, prosesnya, sebab akibatnya, awal akhirnya, dan harus disampaikan dengan pemilihan kata yang jelas.
Setiap kita, manusia dewasa, pasti sudah melewati masa kanak-kanak dan pasti pernah atau sering atau bahkan sangat sering mempertanyakan tentang sesuatu. Contoh pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya:
1. Ketika ibu saya mengandung, saya bertanya: “Bagaimana adik bayi ada di perut ibu?”,
2. “Ketika ibu dan bapak masih kecil, saya di mana?”,
BAB I
ILMU DAN FILSAFAT
Dalam beberapa hal, istilah ilmu dan pengetahuan terkadang disamakan. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat tidak ditemukannya terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia kecuali pengetahuan. Kata ‘ilmu’ yang berasal dari bahasa Arab, arti dasarnya adalah kejelasan. Sehingga setiap devariasi kata ‘ilmu’ mengandung unsur kejelasan. Dengan demikian, ‘ilmu’ dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Dari gambaran di atas, dapat ditemukan perbedaan sekaligus hubungan antara ‘ilmu’ dan pengetahuan. ‘Ilmu’ diawali oleh adanya pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’ jika mengandung unsur ‘jelas’. Karena ada syarat ‘jelas’ yang harus dipenuhi agar pengetahuan menjadi ilmu maka tidak semua pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’. Sesuatu disebut jelas karena mempunyai ciri, tanda, sistematika, terukur, terbuka, universal, dan objektif. Ilmu bagaikan sapu lidi, yang tersusun dari lidi-lidi yang sudah diraut, dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat-tempat lain yang belum tersusun baik. Jadi, ilmu adalah sebagian pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Induk ilmu adalah filsafat. Kerja filsafat sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak dipenuhi dengan fenomena- fenomena kecenderungan mereka terhadap filsafat. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar tentang sesuatu yang harus dijawab dengan jawaban yang sangat jelas tanda-tandanya, prosesnya, sebab akibatnya, awal akhirnya, dan harus disampaikan dengan pemilihan kata yang jelas.
Setiap kita, manusia dewasa, pasti sudah melewati masa kanak-kanak dan pasti pernah atau sering atau bahkan sangat sering mempertanyakan tentang sesuatu. Contoh pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya:
1. Ketika ibu saya mengandung, saya bertanya: “Bagaimana adik bayi ada di perut ibu?”,
2. “Ketika ibu dan bapak masih kecil, saya di mana?”,
3. Ketika adik saya berusia 2,5 tahun meninggal, saya bertanya : “Mengapa dia meninggal?”,
4. “Kemana kita setelah meninggal?”,
5. “Apa/siapakah saya?” “Mengapa saya dilahirkan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta jawaban yang tidak cukup dengan satu kata atau satu pernyataan. Bahkan terkadang tidak cukup dengan satu periode tertentu. Misal: jawaban pertanyaan pertama mungkin baru relative dapat dipahami dengan standar relative benar ketika seorang manusia sudah sampai pada periode dewasa atau bahkan baru dapat disampaikan dengan jelas ketika periode kanak-kanak sudah terlewati. Sehingga ketika menonton tayangan iklan di televisi anak saya yang berusia 7 tahun berkata: “Umi, coba minum susu prenagen biar aku punya adik!”, saya hanya tertawa dan membayangkan anak saya kelak di masa dewasanya juga tertawa mentertawakan usulannya di masa kecil.
Pertanyaan kedua (“Ketika bapak dan ibu masih kecil, saya ada di mana?”) tidak cukup dengan jawaban belum ada. Karena bisa jadi disusul lagi dengan pertanyaan: “Asalku apa, dari mana, bagaimana asalku, dan sebagainya.
Jawaban pertanyaan “Mengapa dia meninggal?” yang dilontarkan ibu adalah “Karena adikmu sakit”.
“Mengapa adik temanku sakit tapi tidak meninggal, padahal sama-sama ke rumah sakit. Adik temanku pulang dalam keadaan sehat sedangkan adikku pulang dalam keadaan sudah meninggal?”
Saya tidak benar-benar ingat apa jawaban ibu saat itu. Yang jelas, ketika anak saya mengajukan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan masa kecil saya dulu (“Mengapa seseorang meninggal?”), saya jawab: “Karena sudah waktunya”.
Jawaban pertanyaan saya yang keempat (“Kemana kita setelah meninggal?”) membuat saya sering sulit tidur dan terbangun di tengah malam karena ketakutan. Ibu menjelaskan bahwa setelah kita meninggal, kita akan dihidupkan kembali dan hidup terus menerus. Kata-kata hidup terus begitu mengerikan, melelahkan, mengesalkan, dan menakutkan. Sebuah persepsi negatif tentang hari akhirat yang barangkali dipengaruhi oleh komik-komik yang saat itu beredar. Di dalamnya digambarkan manusia-manusia yang disiksa di neraka seperti disetrika punggung bagi yang tidak berpuasa, dililit ular besar bagi yang tidak shalat, digunting lidahnya dan tumbuh lagi kemudian digunting lagi dan seterusnya tiada berkesudahan. Gambaran tersebut lebih menempel kuat di benak kanak-kanak saya disbanding gambaran keindahan surganya yang mungkin juga digambarkan secara tidak seimbang.
Pertanyaan kelima (“Apa/siapakah saya, untuk apa saya dilahirkan?”) inilah yang sampai saat sekarang masih terus dicari jawaban sejatinya. Dari jawaban yang bersumber dari materi maupun ide, dari akal maupun persepsi wahyu, masih menimbulkan pertanyaan lanjutan. Karena bisa jadi pemahaman saya masih kanak-kanak. Atau pihak-pihak yang menjawabnya belum bisa menjelaskan persepsi mereka dengan bahasa yang bisa memuaskan persepsi saya. Barangkali saya hanya bisa menunggu saat-saat saya mentertawakan pertanyaan saya yang mungkin lucu itu. Kapankah itu? Bisa jadi hanya kelak di akhirat hakikat itu hanya akan terungkap.
Itulah kerja filsafat, sebuah usaha untuk mengungkap tentang hakikat atau inti mutlak sesuatu yang bersifat sangat dalam (radix).
Cerita panjang di atas hanya bermaksud mengungkapkan persepsi saya tentang kerja fikir yang sering tiada habisnya. Karena bukankah itu letak kemuliaan manusia dibanding makhluk Allah lainnya: berfikir tiada henti menghasilkan ilmu.
Ilmu, dengan berbagai cabangnya, terus berkembang. Tapi sejalan dengan perkembangan itu, ilmu sebagai gejala yang makin nyata dalam kehidupan manusia terus menerus dan makin dipersoalkan serta dipelajari. Ini menunjukkan bahwa orang tidak puas dengan jawaban yang ada. Sementara orang masih belum puas juga dengan keterangan yang diberikan mengenai ilmu, persoalan baru sudah timbul. Sehingga, pada awalnya ilmu hampir identik dengan pengetahuan, lama kelamaan ilmu makin membedakan dirinya dengan pengetahuan. Ketika disadari bahwa ilmu itu berbeda dengan pengetahuan dan makin rumit tanda-tanda gejalanya, maka hakikat ilmu pun mulai dipertanyakan. Maka berkembanglah filsafat ilmu.
Filsafat ilmu tentu saja berlainan dengan ilmu filsafat. Jika ilmu filsafat adalah ilmu yang objek kajiannya filsafat, maka filsafat ilmu justru objek kajiannya adalah ilmu. Dalam filsafat ilmu dikaji secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, sehingga filsafat ilmu perlu dimulai dari pertanyaan yang paling mendasar seperti: Apa ilmu? Bagaimana wujud hakiki ilmu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan landasan ontologis. Selain pertanyaan landasan ontologis, perlu dijawab pula pertanyaan landasan epistimologis: Bagaimana ilmu didapat? Sumber ilmu itu apa? Bagaimana prosedur dan mekanismenya? Cara/teknik/sarana apa yang digunakan? Masih belum cukup dengan dua pertanyaan landasan tersebut, filsafat ilmu pun perlu menjawab pertanyaan landasan aksiologis: untuk apa ilmu tersebut digunakan? Bagaimana kaitan antara hal-hal yang dilakukan, dihasilkan, dan digunakan dengan kaidah-kaidah moral: etika dan estetika?
BAB II
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Hampir bisa dipastikan, setiap masyarakat memiliki atau setidaknya pernah memiliki mitos tertentu. Mitos-mitos yang saya tahu ketika masa kanak-kanak dulu diantaranya tidak boleh berkeliaran waktu sareupna (saat-saat menjelang matahari terbenam), nanti ditangkap sandekala, tidak boleh mandi di tampiyan (sumur) sawah tengah hari, nanti kasambet, kalau ada gempa orang-orang sibuk memukul kentongan sambil berteriak: “ Aya…aya…aya” sedangkan bapakku mengucapkan lailaha illallah berulang-ulang. Dulu orang-orang tua mengatakan bahwa suatu saat nanti dari kampung ke kecamatan (jaraknya 6 km) bisa ditempuh hanya dengan sekejap mata (waktu itu ditempuh dengan dua jam lebih perjalanan kaki). Sekarang memang terbukti hanya 15 menit waktu yang diperlukan.
Itulah mitos. Intinya memuat kepercayaan tentang adanya suatu eksistensi yang lain di balik wujud sesuatu. Keyakinan adanya keberadaan sesuatu di balik keberadaan alam ini beserta semua fenomenanya.
Rasa ingin tahu menjadi salah satu ciri manusia yang berakal dan berfikir dengan akalnya. Maka dia menjadikan alam dengan segala fenomenanya sebagai objek kajian dan penelitian. Terkadang mitos merupakan alat sederhana yang efektif untuk menjaga kelestarian alam dan keselamatan hidup manusia. Dengan “pamali” (larangan) mengambil hasil-hasil hutan larangan baik berupa floranya maupun faunanya, membuat kelestarian alam bisa dijaga, banjir longsor bisa dicegah, pemanasan global bisa ditunda. Kepercayaaan bahwa suatu saat jarak tempuh yang membutuhkan waktu tempuh lama menjadi sebentar membuat semangat menemukan dan menciptakan sesuatu, ataupun hanya sekedar menggunakan fasilitas tertentu. Dengan mobil misalnya. Sakitnya seseorang setelah mandi di sumur sawah saat matahari terik yang mereka sebut dengan istilah kasambet menjadi bisa dirasionalisasi dengan teori bahwa hal itu merupakan ungkapan kekagetan badan yang sedang panas disiram unsur air yang dingin.
Gambaran diatas bermaksud mengungkapkan manfaat-manfaat mitos yang setelah melalui proses pengambilan hikmah, pengertian dan rasionalisasi menjadi dasar ditemukannya pengetahuan dan pemahaman. Proses kajian dan penelitian sehingga sesuatu bisa dirasionalisasi merubah mitos menjadi logos (ilmu). Pengambilan hikmah dari suatu mitos menghasilkan kepantasan dan kelayakan yang menjadi sebuah system nilai yang didalamnya berisi baik dan buruk. Sistem nilai inilah yang menjadi dasar lahirnya suatu peradaban.
Intinya, karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri , timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan dalam pikirannya; dari mana datangnya alam ini, bagaimana kejadiannya, bagaimana kemajuannya dan kemana tujuannya? Pertanyaan semacam inilah yang selalu menjadi pertanyaan di kalangan filosof Yunani (dimulai pada sekitar abad IX SM). Karena perhatian mereka yang begitu besar pada alam, tidaklah mengherankan jika kemudian mereka juga disebut dengan filosof alam.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM), sehingga ia digelari Bapak Filsafat. Ia mempertanyakan : “Apa sebenarnya asal usul ala mini?”. Pertanyaan ini sangat mendasar. Terlepas apapun jawabannya, namun yang penting harus dijawab dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal ala mini adalah air.
Setelah Thales, muncul Anaximandros (610-540). Ia menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Karena itu ia tidak puas dengan menunjukkan salah satu anasir sebagai prinsip alam misal: air. Tetapi dia mencari yang lebih dalam yaitu zat yang tidak dapat diamati oleh panca indera.
Berbeda dengan Thales dan Anaximandros. Heraklitos (540-480 SM) melihat alam semesta ini selalu berubah. Karena itu dia berkesimpulan, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar ada. Semuanya menjadi. Ia berkesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahannya melainkan actor dan penyebabnya. Yaitu api.
Filosof alam yang cukup berpengaruh adalah Parmenides (515-440 SM). Pandangannya bertolak belakang dengan Heraklitos. Menurutnya, realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Yang ada itu ada. Inilah kebenaran. Gerak alam yang terlihat adalah semu. Sejatinya alam itu diam.
Pythagoras (580-500 SM) mengembalikan sesuatu kepada bilangan. Bilangan adalah unsure utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Jasa Pythagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu terutama ilmu pasti dan ilmu alam.
Setelah berakhirnya masa para filosofi alam, maka muncul masa transisi. Penelitan terhadap alam tidak menjadi focus utama tetapi sudah menjurus kepada penyelidikan tentang manusia. Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Timbullah kaum “Sofis”. Kaum Sofis memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). Ia menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat subjektif dan relative sehingga tidak akan ada ukuran yang absolute dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori matematika tidak dianggapnya mempunyai kebenaran yang absolute.
Tokoh lain dari kaum Sofis adalah Gorgias (483-375 SM). Menurutnya ada tiga proposisi: pertama, tidak ada yang ada. Kedua, bila sesuatu itu ada tidak akan dapat diketahui. Karena penginderaan itu sumber ilusi. Akal pun telah diperdaya oleh dilemma subjektifitas. Dan ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Pengaruh positif gerakan kaum Sofis membangkitkan semangat berfilsafat. Mereka mengingatkan bahwa persoalan pokok filsafat bukanlah alam melainkan manusia. Mereka membangkitkan jiwa humanisme. Tidak adanya jawaban final tentang etika, agama, dan metafisika membuka peluang bagi para folosof untuk lebih kreatif lagi berfikir. Ilmu mendapat ruang yang sangat kondusif karena diberi ruang untuk berspekulasi dan sekaligus merelatifkan teori sehingga muncul sintesa baru. Dalam filsafat ilmu, pandangan relative tentang kebenaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses mencari ilmu. Karena itu, ilmu itu terbatas, tetapi mencari ilmu tidak terbatas.
Namun Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum Sofis. Menurut mereka, ada kebenaran objektif yang bergantung kepada manusia. Dengan metode dialog yang dilakukan Socrates tentang sebuah konsep, ditemukanlah kebenaran universal.
Socrates berpendapat bahwa dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Sehingga pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri.
Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara flsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM): murid Socrates. Menurut Plato kebenaran itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam ide. Ia mensintesakan antara pandangan Heraklitos dan Parmenides. Ia berpendapat, pandangan Heraklitos benar tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja. Sedangkan pendapat Parmenides juga benar tetapi hanya berlaku bagi ide-ide yang bersifat abadi. Ide inilah yang menjadi dasar bagi pengenalan yang sejati.
Puncak kejayan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu system: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Ia yang pertamakali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Pembagian inilah yang menjadi pedoman bagi klasifikasi ilmu di kemudian hari. Aristoteles dianggap Bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.
Begitulah awal perjalanan filsafat yang melahirkan perkembangan ilmu sampai ke masa kita sekarang ini. Hanya saja perkembangan ilmu ternyata tidak berarti mutlak sebagai rahmat bagi kehidupan manusia. Tidak jarang kemajuan ilmu dan teknologi yang terus berlangsung, membawa dampak negative baik materil maupun spiritual.
BAB III
METAFISIKA
Saya mahasiswa S2 STAIN Cirebon. Tentu saja sudah menyelesaikan program S1. Bermacam-macam pendapat orang mengatakan tentang latar belakang di balik kesarjanaan saya. Orang tua beranggapan bahwa suksesnya saya menjadi sarjana adalah karena satu hal yaitu keinginan yang kuat (idea). Ditandai dengan saya tetap mau sekolah walaupun tidak pernah didaftarkan orang tua untuk masuk ke jenjang sekolah manapun, tetap semangat walaupun ke sekolah memakai seragam bekas ataupun baju main tanpa alas kaki, tetap rangking satu walaupun hampir tak pernah dibelikan buku-buku, tetap mau melanjutkan ke SMP walaupun teman-teman perempuan SD yang lain memilih menikah, tetap semangat walaupun harus menempuh jarak 6 km dengan berjalan kaki untuk bisa sampai ke SMP, tetap bisa menyelesaikan SMA walaupun dengan bekal seadanya, tetap menyelesaikan S1 dengan nilai cum laude walaupun tidak didukung dengan sarana materi yang relative memadai.
Lain pendapat orang tua lain pula pandangan orang-orang sekarang. Contoh: adik. Ia berpendapat kesarjanaan saya karena biaya pendidikan (materi) yang relative murah. Karena zaman sekarang, di mana keberadaan materi menjadi sesuatu yang mutlak dalam segala hal, tidak akan berhasil sebuah proses tanpa ada materi yang melatarbelakanginya.
Saya fikir, bisa jadi memang keinginan yang kuat memang suatu eksistensi di balik terwujudnya kesarjanaan saya. Tetapi bagaimana jika keinginan yang kuat itu tidak dibarengi dengan selusin buku tulis hadiah rangking satu yang didapatkan setiap tahun ketika SD? Apakah bisa tetap eksis di SMP tanpa buku-buku paket bekas kakak kelas? Apakah bisa menyelesaikan SMA dengan kondisi jauh dari orang tua tanpa tinggal di Pondok Pesantren dengan biaya yang sangat murah? Apakah bisa meraih gelar sarjana tanpa bantuan hasil ‘ngeles” ngaji anak-anak dosen ?
Kira-kira begitulah metafisika. Berasal dari bahasa Yunani, meta=di balik/sesudah, pyisika=nyata, kongkrit, dapat diukur dan dijangkau panca indra. Jadi metafisika adalah sebuah kajian terhadap eksistensi yang ada di balik sesuatu yang wujud. Pertanyaan-pertanyaan: Apakah ilmu yang sekarang eksis memiliki hubungan dengan dimensi metafisik? Bagaimana ilmu harus bersumber? Apakah murni fisik empiris? Atau ada kajian lain yang lebih mendalam? Merupakan pertanyaan-pertanyaan yang penting dalam kajian metafisika dalam rumpun filsafat ilmu.
Aristoteles menganggap metafisika akan dan harus berpusat pada persoalan ‘barang’ dan ‘bentuk’. Bentuk sebagai pengganti idea yang digagas Plato dan berada di balik fisik.
Metafisika dapat digunakan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat tertinggi atau terdalam dari keadaan atau kenyataan yang tampak. Melalui kajian ini penyebab pertama dari segala yang ada akan dikaji, sehingga manusia diharapkan dapat kembali kepada fitrah dasarnya sebagai hamba Allah. Ia akan dituntu memiliki tanggungjawab dan kewajiban dalam berbagai sisi kehidupan.
Secara umum metafisika dapat dibagi menjadi metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum sering diistilahkan dengan ontology. Di dalam pemahaman ontology dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:
1. Monoisme, menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Paha mini kemudian terbagi ke dalam dua aliran :
a. Materialisme, mengangap bahwa sumber yang asal itu materi bukan rohani.
b. Idealisme, dinamakan juga spiritualisme, menganggap bahwa sumber yang asal itu ide atau sesuatu yang bersifat ruh.
2. Dualisme, berpendapat bahwa hakikat yang asal dari sesuatu itu bersumber dari dua: materi dan ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
3. Pluralisme,berpandangan bahwa kenyataan ini terdiri dari banyak unsur.
4. Nihilisme, tidak mengakui validitas yang positif, realitas itu sebenarnya tidak ada.
Sedangkan metafisika khusus adalah cabang filsafat yang mengkaji dan membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia. Setidaknya ada tiga bidang kajian metafisika khusus:
1. Kosmologi. Cabang filsafat yang membicarakan hakikat atau asal-usul alam semesta.
2. Teologi. Mengkaji eksistensi Tuhan yang bebas dari ikatan agama.
3. Antropologi. Cabang filsafat yang membicarakan tentang manusia.
BAB IV
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Rasa ingin tahu merupakan ciri khusus manusia yang membedakannya dari makhluk Allah yang lain. Karena rasa ingin tahu itulah pengetahuan manusia berawal dan berkembang. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival).
Pengetahuan dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga kelangsungan hidupnya. Lebih dari itu, hal-hal baru dipikirkan manusia karena manusia hidup bukan hanya untu kelangsungan hidup. Namun kebudayaan pun dikembangkan sehingga memberi makna kepada kehidupan. Manusia “memanusiakan diri dalam hidupnya”. Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya manusia mempunyai tjuan tertentu dalam hidupnya yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidup.
Proses perkembangan pengetahuan tidak akan berhenti selama manusia berfikir. Hatta dalam kondisi yang sudah berkembang pun tidak dilupakan kajian terhadap aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu. Kajian ini perlu dilakukan karena didasarkan pada: 1) Adanya perbedaan pandangan di kalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu; 2) Perbedaan ini ternyata menimbulkan konsekuensi pada perbedaan paradigma yang dianut masing-masing komunitas masyarakat dalam memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Dunia Islam misalnya. Para filosof dan saintisnya, ternyata memiliki paradigma yang khusus dalam merumuskan smber ilmu pengetahuan. Berkembang pemikiran di kalanga mereka bahwa sumber utama ilmu pengetahuan itu adalah wahyu yang termanifestasikan dalam bentuk Al-Quran dan sunnah.
Berbeda dengan para filosof dan saintis Barat pada umumnya. Menurut pandangan mereka sumber ilmu pengetahuan itu adalah : Rasio/akal dan pengalaman/empiris. Mereka tidak menjadikan intuisi sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Mengapa perbedaan dalam penentuan sumber ilmu pengetahuan itu terjadi? Boleh jadi karena dipengaruhi oleh kondisi dan motivasi yang melatarbelakangi kedua komunitas ini. Kondisi dunia Barat yang dalam cengkeraman gereja menjadi motivasi pembebasan diri dari doktrin-doktrin gereja. Sedangkan bagi filosofis Muslim melahirkan ilmu justeru atas dorongan dan spirit wahyu. Sehingga Islam selain memperkenalkan sumber empiris dan rasional sebagai sumber ilmu pengetahuan, juga memperkenalkan sumber lainnya yaitu wahyu dan intuisi dengan penjelasan sebagai berikut;
1. Empirisme/pengalaman, manusia memperoleh pengetahuan bersumber dari
pengalaman inderawi. Namun aliran ini mempunyai banyak kelemahan antara lain:
a. Keterbatasan indera: Benda yang jauh kelihatan kecil.
b. Indera menipu: menurut orang yang sakit, gula terasa pahit.
c. Objek yang menipu: fatamorgana.
d. Berasal dari indera dan objek sekaligus: Mata tidak mampu melihat kerbau secara keseluruhan, dan kerbau juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.
2. Rasionalisme/akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Dengan menggunakan akal, kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan indera dapat dikoreksi. Tetapi rasionalisme juga mempunyai kelemahan. Seperti: kriteria untuk mengetahui kebenaran suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya tetapi menurut orang lain tidak.
Dari dua aliran tersebut (empirisme dan rasionalisme) lahirlah metode ilmiah atau pengetahuan sains. Panca indera mengumpulkan data sedangkan akal menyimpulkan berdasarkan prinsip-prinsip universal.
3. Intuisi dan wahyu.
Intuisi merupakan hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Merupakan sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika, bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
Berbeda dengan intuisi, wahyu adalah pengetahuan yang diperoleh manusia melalui pemberian Tuhan secara langsung kepada hambaNya yang terpilih: Nabi dan Rasul.
Dari ketiga aliran di atas, kita bisa bayangkan bahwa tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar. Paradigma kebenaran akan berbeda antara teori satu dengan teori lainnya.
Teori Koherensi
Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk dari hubungan fakta atau realita tetapi dari hubungan putusan-putusan yang baru dengan putusan-putusan yang lainnya. Jadi, antara putusan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan. Dengan demikian, suatu teori dianggap benar apabila tahan uji. Artinya, suatu teori yang sudah dicetuskan oleh seseorang, diuji oleh orang lain.
Teori Korespondensi.
Menurut teori ini, sebuah pengertian disebut kebenaran apabila terdapat suatu fakta atau realita yang selaras dengan situasi aktual. Dengan demikian kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada realitas objektif.
Teori Pragmatisme.
Menurut teori ini, benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata tergantung kepada asas manfaat, kegunaan, atau pengaruhnya yang memuaskan. Yang dimaksud dengan hasil yang memuaskan adalah:
1. Sesuatu itu benar apabila memuaskan keinginan dan tujuan manusia.
2. Sesuatu itu benar apabila dapat diuji benar dengan eksperimen.
3. Sesuatu itu benar apabila ia mendorong atau membantu perjuangan biologis ntuk tetap ada.
BAB V
METODE BERPIKIR ILMIAH
Metode: cara., langkah-langkah, teknik. Ilmiah: bersifat keilmuan, secara pengetahuan. Metode berpikir ilmiah adalah cara, teknik, prosedur memperoleh pengetahuan melalui kerangka kerja ilmiah yang sistematis. Dilakukan agar ilmu berkembang dan tetap eksis serta mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi.
Metode ilmiah adalah suatu prosedur atau cara ternetu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesa yang ditentukan sebelumnnya. Metode ilmiah dipengaruhi unsure alam yang berubah dan bergerak secara dinamis dan teratur. Asas tunggal alam (natural law) menjadi salah satu sebab adanya ketertiban alam. Corak metode yang bersandar pada alam yang dinamis dan teratur menyebabkan lahirnya ilmu pengetahuan dengan sifat kecenderungan yang positivistic.
Ditemukannya metode berpikir ilmiah, secara langsung telah menyebabkan terjadinya ledakan kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Manusia tidak lagi berpangku tangan terhadap kehendak alam. Kesanggupan mengembangkan pengetahuan inilah letak perbedaan manusia dengan binatang. Jadi, nilai guna metode berpikir ilmiah adalah agar manusia terus menerus mengembangkan pengetahuan.
Metode ilmiah digunakan kaum terdidik untk memecahkan masalah. Lain dengan kaum awam. Mereka menggunakan cara kerja yang biasanya tidak sistematis dan sering bernuansa subjektif. Kaum terdidik menyelesaikan masalah dengan prosedur berpikir ilmiah dengan karakteristik yang bersifat rasional (deduktif) dan teruji secara empiris (induktif).
Sikap ilmiah merupakan bagian penting dari prosedur berpikir ilmiah yang meliputi enam karakteristik:
1. Rasa ingin tahu sebagai pemicu.
2. Spekulatif untuk menguji hipotesis.
3. Objektif.
4. keterbukaan untuk mempertimbangkan semua masukan yang relevan.
5. Kesediaan untuk menunda penilaian jika penyelidikan belum memperoleh bukti yang diperlukan.
6. Tentatif, tidak bersifat dogmatis terhadap hipotesis atau simpulan.
Untk mencapai apa yang disebut benar,seorang peneliti melakukan aktivitas ilmiah dengan beberapa langkah sebagai berikut:
1. Menyusun sesuatu yang disebut sebagai masalah.
2. Merumuskan masalah dalam bentuk yang operasional.
3. Menyusun hipotesa.
4. Menetapkan teknik dan menyusun instrument penelitian.
5. Mengumpulkan data yang diperlukan.
6. Melakukan analisa data.
7. Menggambarkan kesimpulan.
Dalam melaksanakan penelitian, para ilmuwan mempunyai dua aspek: individual dan sosial.
a. Aspek individual mengacu pada ilmu sebagai aktivitas ilmuwan.
b. Aspek sosial mengacu pada ilmu sebagai aktivitas suatu komunitas ilmiah dan kumpulan para ilmuwan.
BAB VI
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Kegiatan berpikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah. Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Berpikir ilmiah adalah berpikir dengan langkah-langkah metode ilmiah seperti: perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literature, menguji hipotesis, menarik kesimpulan. Semua langkah-langkah berpikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat/sarana yang baik sehingga diharapkan hasil berpikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat Bantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmia secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.
Ditinjau dari pola berpikir maka ilmu ilmu merupakan gabungan antara pola berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kea rah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peeranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan berpikir ilmiah tersebut.
Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana berpikir berupa: Bahasa, logika, matematika, dan statistic.
BAB VII
ETIKA
Etika adala salah satu unsure penting yang terdapat dalam teori nilai. Kata teori nilai yang terdiri dari dua kata yakni teore dan nilai itu, tampaknya merupakan terjemahan dari bahasa yunani: logos (akal dan teori0 dan aksios (nilai, atau suatu yang berharga).
Para ahli filsafat sering menyebut teori nilai sama dengan aksiologi. Seperti diketahui bahwa aksiologi merupakan bagian dari tiga cabanga besar Filsafat ilmu, yakni: ontology, epistemology, dan aksiologi. Aksiologi sering disebut sebagai ilmu yang melakukan penyelidikan mengenai kodrat, criteria dan status metafisik dari nilai.
Nilai memiliki cirri dan karakter khusus. Setidaknya, dalam catatan Filsafat ilmu, nilai memiliki tiga cirri, yaitu :
1. Nilai dan subjek
2. Sikap Praktis
3. Sikap Pandang Subjektif
BAB VIII
ESTETIKA
Estetika sering terkait dengan persoalan seni dan rasa keindahan. Estetika merupakan bagian dari tri tunggal, yakni teori tentang kebenaran (epistimologi), kebaikan dan keburukan (etika) dan keindahan itu sendiri (estetika).
Estetika berbicara mengenai hakikat keindahan. Selain itu estetika juga berbicara tentang teori mengenai seni, seni yang melukiskan bahasa dan perasaan.
Dengan demikian, estetika berarti suatu teori yang meliputi:
1. penyelidikan mengenai yang indah
2. Penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni
3. Pengalaman yang bertalian dengan seni, penciptaan seni, penilaian terhadap seni, atau perenungan terhadap seni.
BAB IX
BAHASA ILMIAH
Bahasa dicirikan sebagai:
1. Serangkaian bunyi yang digunakan sebagai alat komunikasi
2. Lambang dari serangkaian bunyi yang membentuk arti tertentu
Dengan bahasa manusia dapat mengkomunkasikan segenap pengalaman dan berpikir mereka. Pengalaman dan pemikiran yang berkembang membuat bahasa pun ikut berkembang.
Kemampuan bahasa adalah bagaimana anak mengkontruksi pengetahuannya dan bisa menyampaikan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan berbahasa adalah salah satu keunikan manusia.
Bahasa bagi manusia berfungsi sebagai:
1. Alat komunikasi atau fungsi komunikatif
2. Alat budaya, yang mempersatukan manusia yang menggunakan bahasa tersebut atau fungsi kohesif.
Di dalam fungsi komunikatif bahasa terdapat tiga unsur bahasa yang digunakan untuk menyampaikan : perasaan (unsure emotif), sikap (unsure afektif), dan buah pikiran (unsure penalaran). Perkembangan bahasa dipengaruhi ketiga unsur ini.
Perkembangan ilmu dipengaruhi oleh fungsi penalaran dan komunikasi bebas dari pengaruh unsure emotif. Sedangkan perkembangan seni dipengaruhi oleh unsure emotif dan afektif.
Syarat komunikasi ilmiah adalah ;
1. bahasa harus bebas emotif
2. reproduktif artinya komunikasinya dapat dimengerti oleh yang menerima
kekurangan bahasa terletak pada :
1. peranan bahasa yang multifungsi, artinya komunikasi ilmiah hanya menginginkan penyampaian buah pikiran atau penalaran saja, sedangkan bahasa verbal harus mengandung unsur emotif, afektif dan simbolik
2. arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang mengandung bahasa.
3. konotasi yang bersifat emosional
ILMU DAN FILSAFAT
Dalam beberapa hal, istilah ilmu dan pengetahuan terkadang disamakan. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat tidak ditemukannya terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia kecuali pengetahuan. Kata ‘ilmu’ yang berasal dari bahasa Arab, arti dasarnya adalah kejelasan. Sehingga setiap devariasi kata ‘ilmu’ mengandung unsur kejelasan. Dengan demikian, ‘ilmu’ dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Dari gambaran di atas, dapat ditemukan perbedaan sekaligus hubungan antara ‘ilmu’ dan pengetahuan. ‘Ilmu’ diawali oleh adanya pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’ jika mengandung unsur ‘jelas’. Karena ada syarat ‘jelas’ yang harus dipenuhi agar pengetahuan menjadi ilmu maka tidak semua pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’. Sesuatu disebut jelas karena mempunyai ciri, tanda, sistematika, terukur, terbuka, universal, dan objektif. Ilmu bagaikan sapu lidi, yang tersusun dari lidi-lidi yang sudah diraut, dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat-tempat lain yang belum tersusun baik. Jadi, ilmu adalah sebagian pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Induk ilmu adalah filsafat. Kerja filsafat sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak dipenuhi dengan fenomena- fenomena kecenderungan mereka terhadap filsafat. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar tentang sesuatu yang harus dijawab dengan jawaban yang sangat jelas tanda-tandanya, prosesnya, sebab akibatnya, awal akhirnya, dan harus disampaikan dengan pemilihan kata yang jelas.
Setiap kita, manusia dewasa, pasti sudah melewati masa kanak-kanak dan pasti pernah atau sering atau bahkan sangat sering mempertanyakan tentang sesuatu. Contoh pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya:
1. Ketika ibu saya mengandung, saya bertanya: “Bagaimana adik bayi ada di perut ibu?”,
2. “Ketika ibu dan bapak masih kecil, saya di mana?”,
BAB I
ILMU DAN FILSAFAT
Dalam beberapa hal, istilah ilmu dan pengetahuan terkadang disamakan. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat tidak ditemukannya terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia kecuali pengetahuan. Kata ‘ilmu’ yang berasal dari bahasa Arab, arti dasarnya adalah kejelasan. Sehingga setiap devariasi kata ‘ilmu’ mengandung unsur kejelasan. Dengan demikian, ‘ilmu’ dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Dari gambaran di atas, dapat ditemukan perbedaan sekaligus hubungan antara ‘ilmu’ dan pengetahuan. ‘Ilmu’ diawali oleh adanya pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’ jika mengandung unsur ‘jelas’. Karena ada syarat ‘jelas’ yang harus dipenuhi agar pengetahuan menjadi ilmu maka tidak semua pengetahuan dapat menjadi ‘ilmu’. Sesuatu disebut jelas karena mempunyai ciri, tanda, sistematika, terukur, terbuka, universal, dan objektif. Ilmu bagaikan sapu lidi, yang tersusun dari lidi-lidi yang sudah diraut, dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat-tempat lain yang belum tersusun baik. Jadi, ilmu adalah sebagian pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Induk ilmu adalah filsafat. Kerja filsafat sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak dipenuhi dengan fenomena- fenomena kecenderungan mereka terhadap filsafat. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar tentang sesuatu yang harus dijawab dengan jawaban yang sangat jelas tanda-tandanya, prosesnya, sebab akibatnya, awal akhirnya, dan harus disampaikan dengan pemilihan kata yang jelas.
Setiap kita, manusia dewasa, pasti sudah melewati masa kanak-kanak dan pasti pernah atau sering atau bahkan sangat sering mempertanyakan tentang sesuatu. Contoh pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya:
1. Ketika ibu saya mengandung, saya bertanya: “Bagaimana adik bayi ada di perut ibu?”,
2. “Ketika ibu dan bapak masih kecil, saya di mana?”,
3. Ketika adik saya berusia 2,5 tahun meninggal, saya bertanya : “Mengapa dia meninggal?”,
4. “Kemana kita setelah meninggal?”,
5. “Apa/siapakah saya?” “Mengapa saya dilahirkan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta jawaban yang tidak cukup dengan satu kata atau satu pernyataan. Bahkan terkadang tidak cukup dengan satu periode tertentu. Misal: jawaban pertanyaan pertama mungkin baru relative dapat dipahami dengan standar relative benar ketika seorang manusia sudah sampai pada periode dewasa atau bahkan baru dapat disampaikan dengan jelas ketika periode kanak-kanak sudah terlewati. Sehingga ketika menonton tayangan iklan di televisi anak saya yang berusia 7 tahun berkata: “Umi, coba minum susu prenagen biar aku punya adik!”, saya hanya tertawa dan membayangkan anak saya kelak di masa dewasanya juga tertawa mentertawakan usulannya di masa kecil.
Pertanyaan kedua (“Ketika bapak dan ibu masih kecil, saya ada di mana?”) tidak cukup dengan jawaban belum ada. Karena bisa jadi disusul lagi dengan pertanyaan: “Asalku apa, dari mana, bagaimana asalku, dan sebagainya.
Jawaban pertanyaan “Mengapa dia meninggal?” yang dilontarkan ibu adalah “Karena adikmu sakit”.
“Mengapa adik temanku sakit tapi tidak meninggal, padahal sama-sama ke rumah sakit. Adik temanku pulang dalam keadaan sehat sedangkan adikku pulang dalam keadaan sudah meninggal?”
Saya tidak benar-benar ingat apa jawaban ibu saat itu. Yang jelas, ketika anak saya mengajukan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan masa kecil saya dulu (“Mengapa seseorang meninggal?”), saya jawab: “Karena sudah waktunya”.
Jawaban pertanyaan saya yang keempat (“Kemana kita setelah meninggal?”) membuat saya sering sulit tidur dan terbangun di tengah malam karena ketakutan. Ibu menjelaskan bahwa setelah kita meninggal, kita akan dihidupkan kembali dan hidup terus menerus. Kata-kata hidup terus begitu mengerikan, melelahkan, mengesalkan, dan menakutkan. Sebuah persepsi negatif tentang hari akhirat yang barangkali dipengaruhi oleh komik-komik yang saat itu beredar. Di dalamnya digambarkan manusia-manusia yang disiksa di neraka seperti disetrika punggung bagi yang tidak berpuasa, dililit ular besar bagi yang tidak shalat, digunting lidahnya dan tumbuh lagi kemudian digunting lagi dan seterusnya tiada berkesudahan. Gambaran tersebut lebih menempel kuat di benak kanak-kanak saya disbanding gambaran keindahan surganya yang mungkin juga digambarkan secara tidak seimbang.
Pertanyaan kelima (“Apa/siapakah saya, untuk apa saya dilahirkan?”) inilah yang sampai saat sekarang masih terus dicari jawaban sejatinya. Dari jawaban yang bersumber dari materi maupun ide, dari akal maupun persepsi wahyu, masih menimbulkan pertanyaan lanjutan. Karena bisa jadi pemahaman saya masih kanak-kanak. Atau pihak-pihak yang menjawabnya belum bisa menjelaskan persepsi mereka dengan bahasa yang bisa memuaskan persepsi saya. Barangkali saya hanya bisa menunggu saat-saat saya mentertawakan pertanyaan saya yang mungkin lucu itu. Kapankah itu? Bisa jadi hanya kelak di akhirat hakikat itu hanya akan terungkap.
Itulah kerja filsafat, sebuah usaha untuk mengungkap tentang hakikat atau inti mutlak sesuatu yang bersifat sangat dalam (radix).
Cerita panjang di atas hanya bermaksud mengungkapkan persepsi saya tentang kerja fikir yang sering tiada habisnya. Karena bukankah itu letak kemuliaan manusia dibanding makhluk Allah lainnya: berfikir tiada henti menghasilkan ilmu.
Ilmu, dengan berbagai cabangnya, terus berkembang. Tapi sejalan dengan perkembangan itu, ilmu sebagai gejala yang makin nyata dalam kehidupan manusia terus menerus dan makin dipersoalkan serta dipelajari. Ini menunjukkan bahwa orang tidak puas dengan jawaban yang ada. Sementara orang masih belum puas juga dengan keterangan yang diberikan mengenai ilmu, persoalan baru sudah timbul. Sehingga, pada awalnya ilmu hampir identik dengan pengetahuan, lama kelamaan ilmu makin membedakan dirinya dengan pengetahuan. Ketika disadari bahwa ilmu itu berbeda dengan pengetahuan dan makin rumit tanda-tanda gejalanya, maka hakikat ilmu pun mulai dipertanyakan. Maka berkembanglah filsafat ilmu.
Filsafat ilmu tentu saja berlainan dengan ilmu filsafat. Jika ilmu filsafat adalah ilmu yang objek kajiannya filsafat, maka filsafat ilmu justru objek kajiannya adalah ilmu. Dalam filsafat ilmu dikaji secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, sehingga filsafat ilmu perlu dimulai dari pertanyaan yang paling mendasar seperti: Apa ilmu? Bagaimana wujud hakiki ilmu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan landasan ontologis. Selain pertanyaan landasan ontologis, perlu dijawab pula pertanyaan landasan epistimologis: Bagaimana ilmu didapat? Sumber ilmu itu apa? Bagaimana prosedur dan mekanismenya? Cara/teknik/sarana apa yang digunakan? Masih belum cukup dengan dua pertanyaan landasan tersebut, filsafat ilmu pun perlu menjawab pertanyaan landasan aksiologis: untuk apa ilmu tersebut digunakan? Bagaimana kaitan antara hal-hal yang dilakukan, dihasilkan, dan digunakan dengan kaidah-kaidah moral: etika dan estetika?
BAB II
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Hampir bisa dipastikan, setiap masyarakat memiliki atau setidaknya pernah memiliki mitos tertentu. Mitos-mitos yang saya tahu ketika masa kanak-kanak dulu diantaranya tidak boleh berkeliaran waktu sareupna (saat-saat menjelang matahari terbenam), nanti ditangkap sandekala, tidak boleh mandi di tampiyan (sumur) sawah tengah hari, nanti kasambet, kalau ada gempa orang-orang sibuk memukul kentongan sambil berteriak: “ Aya…aya…aya” sedangkan bapakku mengucapkan lailaha illallah berulang-ulang. Dulu orang-orang tua mengatakan bahwa suatu saat nanti dari kampung ke kecamatan (jaraknya 6 km) bisa ditempuh hanya dengan sekejap mata (waktu itu ditempuh dengan dua jam lebih perjalanan kaki). Sekarang memang terbukti hanya 15 menit waktu yang diperlukan.
Itulah mitos. Intinya memuat kepercayaan tentang adanya suatu eksistensi yang lain di balik wujud sesuatu. Keyakinan adanya keberadaan sesuatu di balik keberadaan alam ini beserta semua fenomenanya.
Rasa ingin tahu menjadi salah satu ciri manusia yang berakal dan berfikir dengan akalnya. Maka dia menjadikan alam dengan segala fenomenanya sebagai objek kajian dan penelitian. Terkadang mitos merupakan alat sederhana yang efektif untuk menjaga kelestarian alam dan keselamatan hidup manusia. Dengan “pamali” (larangan) mengambil hasil-hasil hutan larangan baik berupa floranya maupun faunanya, membuat kelestarian alam bisa dijaga, banjir longsor bisa dicegah, pemanasan global bisa ditunda. Kepercayaaan bahwa suatu saat jarak tempuh yang membutuhkan waktu tempuh lama menjadi sebentar membuat semangat menemukan dan menciptakan sesuatu, ataupun hanya sekedar menggunakan fasilitas tertentu. Dengan mobil misalnya. Sakitnya seseorang setelah mandi di sumur sawah saat matahari terik yang mereka sebut dengan istilah kasambet menjadi bisa dirasionalisasi dengan teori bahwa hal itu merupakan ungkapan kekagetan badan yang sedang panas disiram unsur air yang dingin.
Gambaran diatas bermaksud mengungkapkan manfaat-manfaat mitos yang setelah melalui proses pengambilan hikmah, pengertian dan rasionalisasi menjadi dasar ditemukannya pengetahuan dan pemahaman. Proses kajian dan penelitian sehingga sesuatu bisa dirasionalisasi merubah mitos menjadi logos (ilmu). Pengambilan hikmah dari suatu mitos menghasilkan kepantasan dan kelayakan yang menjadi sebuah system nilai yang didalamnya berisi baik dan buruk. Sistem nilai inilah yang menjadi dasar lahirnya suatu peradaban.
Intinya, karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri , timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan dalam pikirannya; dari mana datangnya alam ini, bagaimana kejadiannya, bagaimana kemajuannya dan kemana tujuannya? Pertanyaan semacam inilah yang selalu menjadi pertanyaan di kalangan filosof Yunani (dimulai pada sekitar abad IX SM). Karena perhatian mereka yang begitu besar pada alam, tidaklah mengherankan jika kemudian mereka juga disebut dengan filosof alam.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM), sehingga ia digelari Bapak Filsafat. Ia mempertanyakan : “Apa sebenarnya asal usul ala mini?”. Pertanyaan ini sangat mendasar. Terlepas apapun jawabannya, namun yang penting harus dijawab dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal ala mini adalah air.
Setelah Thales, muncul Anaximandros (610-540). Ia menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Karena itu ia tidak puas dengan menunjukkan salah satu anasir sebagai prinsip alam misal: air. Tetapi dia mencari yang lebih dalam yaitu zat yang tidak dapat diamati oleh panca indera.
Berbeda dengan Thales dan Anaximandros. Heraklitos (540-480 SM) melihat alam semesta ini selalu berubah. Karena itu dia berkesimpulan, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar ada. Semuanya menjadi. Ia berkesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahannya melainkan actor dan penyebabnya. Yaitu api.
Filosof alam yang cukup berpengaruh adalah Parmenides (515-440 SM). Pandangannya bertolak belakang dengan Heraklitos. Menurutnya, realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Yang ada itu ada. Inilah kebenaran. Gerak alam yang terlihat adalah semu. Sejatinya alam itu diam.
Pythagoras (580-500 SM) mengembalikan sesuatu kepada bilangan. Bilangan adalah unsure utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Jasa Pythagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu terutama ilmu pasti dan ilmu alam.
Setelah berakhirnya masa para filosofi alam, maka muncul masa transisi. Penelitan terhadap alam tidak menjadi focus utama tetapi sudah menjurus kepada penyelidikan tentang manusia. Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Timbullah kaum “Sofis”. Kaum Sofis memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). Ia menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat subjektif dan relative sehingga tidak akan ada ukuran yang absolute dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori matematika tidak dianggapnya mempunyai kebenaran yang absolute.
Tokoh lain dari kaum Sofis adalah Gorgias (483-375 SM). Menurutnya ada tiga proposisi: pertama, tidak ada yang ada. Kedua, bila sesuatu itu ada tidak akan dapat diketahui. Karena penginderaan itu sumber ilusi. Akal pun telah diperdaya oleh dilemma subjektifitas. Dan ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Pengaruh positif gerakan kaum Sofis membangkitkan semangat berfilsafat. Mereka mengingatkan bahwa persoalan pokok filsafat bukanlah alam melainkan manusia. Mereka membangkitkan jiwa humanisme. Tidak adanya jawaban final tentang etika, agama, dan metafisika membuka peluang bagi para folosof untuk lebih kreatif lagi berfikir. Ilmu mendapat ruang yang sangat kondusif karena diberi ruang untuk berspekulasi dan sekaligus merelatifkan teori sehingga muncul sintesa baru. Dalam filsafat ilmu, pandangan relative tentang kebenaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses mencari ilmu. Karena itu, ilmu itu terbatas, tetapi mencari ilmu tidak terbatas.
Namun Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum Sofis. Menurut mereka, ada kebenaran objektif yang bergantung kepada manusia. Dengan metode dialog yang dilakukan Socrates tentang sebuah konsep, ditemukanlah kebenaran universal.
Socrates berpendapat bahwa dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Sehingga pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri.
Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara flsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM): murid Socrates. Menurut Plato kebenaran itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam ide. Ia mensintesakan antara pandangan Heraklitos dan Parmenides. Ia berpendapat, pandangan Heraklitos benar tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja. Sedangkan pendapat Parmenides juga benar tetapi hanya berlaku bagi ide-ide yang bersifat abadi. Ide inilah yang menjadi dasar bagi pengenalan yang sejati.
Puncak kejayan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu system: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Ia yang pertamakali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Pembagian inilah yang menjadi pedoman bagi klasifikasi ilmu di kemudian hari. Aristoteles dianggap Bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.
Begitulah awal perjalanan filsafat yang melahirkan perkembangan ilmu sampai ke masa kita sekarang ini. Hanya saja perkembangan ilmu ternyata tidak berarti mutlak sebagai rahmat bagi kehidupan manusia. Tidak jarang kemajuan ilmu dan teknologi yang terus berlangsung, membawa dampak negative baik materil maupun spiritual.
BAB III
METAFISIKA
Saya mahasiswa S2 STAIN Cirebon. Tentu saja sudah menyelesaikan program S1. Bermacam-macam pendapat orang mengatakan tentang latar belakang di balik kesarjanaan saya. Orang tua beranggapan bahwa suksesnya saya menjadi sarjana adalah karena satu hal yaitu keinginan yang kuat (idea). Ditandai dengan saya tetap mau sekolah walaupun tidak pernah didaftarkan orang tua untuk masuk ke jenjang sekolah manapun, tetap semangat walaupun ke sekolah memakai seragam bekas ataupun baju main tanpa alas kaki, tetap rangking satu walaupun hampir tak pernah dibelikan buku-buku, tetap mau melanjutkan ke SMP walaupun teman-teman perempuan SD yang lain memilih menikah, tetap semangat walaupun harus menempuh jarak 6 km dengan berjalan kaki untuk bisa sampai ke SMP, tetap bisa menyelesaikan SMA walaupun dengan bekal seadanya, tetap menyelesaikan S1 dengan nilai cum laude walaupun tidak didukung dengan sarana materi yang relative memadai.
Lain pendapat orang tua lain pula pandangan orang-orang sekarang. Contoh: adik. Ia berpendapat kesarjanaan saya karena biaya pendidikan (materi) yang relative murah. Karena zaman sekarang, di mana keberadaan materi menjadi sesuatu yang mutlak dalam segala hal, tidak akan berhasil sebuah proses tanpa ada materi yang melatarbelakanginya.
Saya fikir, bisa jadi memang keinginan yang kuat memang suatu eksistensi di balik terwujudnya kesarjanaan saya. Tetapi bagaimana jika keinginan yang kuat itu tidak dibarengi dengan selusin buku tulis hadiah rangking satu yang didapatkan setiap tahun ketika SD? Apakah bisa tetap eksis di SMP tanpa buku-buku paket bekas kakak kelas? Apakah bisa menyelesaikan SMA dengan kondisi jauh dari orang tua tanpa tinggal di Pondok Pesantren dengan biaya yang sangat murah? Apakah bisa meraih gelar sarjana tanpa bantuan hasil ‘ngeles” ngaji anak-anak dosen ?
Kira-kira begitulah metafisika. Berasal dari bahasa Yunani, meta=di balik/sesudah, pyisika=nyata, kongkrit, dapat diukur dan dijangkau panca indra. Jadi metafisika adalah sebuah kajian terhadap eksistensi yang ada di balik sesuatu yang wujud. Pertanyaan-pertanyaan: Apakah ilmu yang sekarang eksis memiliki hubungan dengan dimensi metafisik? Bagaimana ilmu harus bersumber? Apakah murni fisik empiris? Atau ada kajian lain yang lebih mendalam? Merupakan pertanyaan-pertanyaan yang penting dalam kajian metafisika dalam rumpun filsafat ilmu.
Aristoteles menganggap metafisika akan dan harus berpusat pada persoalan ‘barang’ dan ‘bentuk’. Bentuk sebagai pengganti idea yang digagas Plato dan berada di balik fisik.
Metafisika dapat digunakan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat tertinggi atau terdalam dari keadaan atau kenyataan yang tampak. Melalui kajian ini penyebab pertama dari segala yang ada akan dikaji, sehingga manusia diharapkan dapat kembali kepada fitrah dasarnya sebagai hamba Allah. Ia akan dituntu memiliki tanggungjawab dan kewajiban dalam berbagai sisi kehidupan.
Secara umum metafisika dapat dibagi menjadi metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum sering diistilahkan dengan ontology. Di dalam pemahaman ontology dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:
1. Monoisme, menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Paha mini kemudian terbagi ke dalam dua aliran :
a. Materialisme, mengangap bahwa sumber yang asal itu materi bukan rohani.
b. Idealisme, dinamakan juga spiritualisme, menganggap bahwa sumber yang asal itu ide atau sesuatu yang bersifat ruh.
2. Dualisme, berpendapat bahwa hakikat yang asal dari sesuatu itu bersumber dari dua: materi dan ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
3. Pluralisme,berpandangan bahwa kenyataan ini terdiri dari banyak unsur.
4. Nihilisme, tidak mengakui validitas yang positif, realitas itu sebenarnya tidak ada.
Sedangkan metafisika khusus adalah cabang filsafat yang mengkaji dan membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia. Setidaknya ada tiga bidang kajian metafisika khusus:
1. Kosmologi. Cabang filsafat yang membicarakan hakikat atau asal-usul alam semesta.
2. Teologi. Mengkaji eksistensi Tuhan yang bebas dari ikatan agama.
3. Antropologi. Cabang filsafat yang membicarakan tentang manusia.
BAB IV
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Rasa ingin tahu merupakan ciri khusus manusia yang membedakannya dari makhluk Allah yang lain. Karena rasa ingin tahu itulah pengetahuan manusia berawal dan berkembang. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival).
Pengetahuan dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga kelangsungan hidupnya. Lebih dari itu, hal-hal baru dipikirkan manusia karena manusia hidup bukan hanya untu kelangsungan hidup. Namun kebudayaan pun dikembangkan sehingga memberi makna kepada kehidupan. Manusia “memanusiakan diri dalam hidupnya”. Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya manusia mempunyai tjuan tertentu dalam hidupnya yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidup.
Proses perkembangan pengetahuan tidak akan berhenti selama manusia berfikir. Hatta dalam kondisi yang sudah berkembang pun tidak dilupakan kajian terhadap aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu. Kajian ini perlu dilakukan karena didasarkan pada: 1) Adanya perbedaan pandangan di kalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu; 2) Perbedaan ini ternyata menimbulkan konsekuensi pada perbedaan paradigma yang dianut masing-masing komunitas masyarakat dalam memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Dunia Islam misalnya. Para filosof dan saintisnya, ternyata memiliki paradigma yang khusus dalam merumuskan smber ilmu pengetahuan. Berkembang pemikiran di kalanga mereka bahwa sumber utama ilmu pengetahuan itu adalah wahyu yang termanifestasikan dalam bentuk Al-Quran dan sunnah.
Berbeda dengan para filosof dan saintis Barat pada umumnya. Menurut pandangan mereka sumber ilmu pengetahuan itu adalah : Rasio/akal dan pengalaman/empiris. Mereka tidak menjadikan intuisi sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Mengapa perbedaan dalam penentuan sumber ilmu pengetahuan itu terjadi? Boleh jadi karena dipengaruhi oleh kondisi dan motivasi yang melatarbelakangi kedua komunitas ini. Kondisi dunia Barat yang dalam cengkeraman gereja menjadi motivasi pembebasan diri dari doktrin-doktrin gereja. Sedangkan bagi filosofis Muslim melahirkan ilmu justeru atas dorongan dan spirit wahyu. Sehingga Islam selain memperkenalkan sumber empiris dan rasional sebagai sumber ilmu pengetahuan, juga memperkenalkan sumber lainnya yaitu wahyu dan intuisi dengan penjelasan sebagai berikut;
1. Empirisme/pengalaman, manusia memperoleh pengetahuan bersumber dari
pengalaman inderawi. Namun aliran ini mempunyai banyak kelemahan antara lain:
a. Keterbatasan indera: Benda yang jauh kelihatan kecil.
b. Indera menipu: menurut orang yang sakit, gula terasa pahit.
c. Objek yang menipu: fatamorgana.
d. Berasal dari indera dan objek sekaligus: Mata tidak mampu melihat kerbau secara keseluruhan, dan kerbau juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.
2. Rasionalisme/akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Dengan menggunakan akal, kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan indera dapat dikoreksi. Tetapi rasionalisme juga mempunyai kelemahan. Seperti: kriteria untuk mengetahui kebenaran suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya tetapi menurut orang lain tidak.
Dari dua aliran tersebut (empirisme dan rasionalisme) lahirlah metode ilmiah atau pengetahuan sains. Panca indera mengumpulkan data sedangkan akal menyimpulkan berdasarkan prinsip-prinsip universal.
3. Intuisi dan wahyu.
Intuisi merupakan hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Merupakan sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika, bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
Berbeda dengan intuisi, wahyu adalah pengetahuan yang diperoleh manusia melalui pemberian Tuhan secara langsung kepada hambaNya yang terpilih: Nabi dan Rasul.
Dari ketiga aliran di atas, kita bisa bayangkan bahwa tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar. Paradigma kebenaran akan berbeda antara teori satu dengan teori lainnya.
Teori Koherensi
Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk dari hubungan fakta atau realita tetapi dari hubungan putusan-putusan yang baru dengan putusan-putusan yang lainnya. Jadi, antara putusan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan. Dengan demikian, suatu teori dianggap benar apabila tahan uji. Artinya, suatu teori yang sudah dicetuskan oleh seseorang, diuji oleh orang lain.
Teori Korespondensi.
Menurut teori ini, sebuah pengertian disebut kebenaran apabila terdapat suatu fakta atau realita yang selaras dengan situasi aktual. Dengan demikian kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada realitas objektif.
Teori Pragmatisme.
Menurut teori ini, benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata tergantung kepada asas manfaat, kegunaan, atau pengaruhnya yang memuaskan. Yang dimaksud dengan hasil yang memuaskan adalah:
1. Sesuatu itu benar apabila memuaskan keinginan dan tujuan manusia.
2. Sesuatu itu benar apabila dapat diuji benar dengan eksperimen.
3. Sesuatu itu benar apabila ia mendorong atau membantu perjuangan biologis ntuk tetap ada.
BAB V
METODE BERPIKIR ILMIAH
Metode: cara., langkah-langkah, teknik. Ilmiah: bersifat keilmuan, secara pengetahuan. Metode berpikir ilmiah adalah cara, teknik, prosedur memperoleh pengetahuan melalui kerangka kerja ilmiah yang sistematis. Dilakukan agar ilmu berkembang dan tetap eksis serta mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi.
Metode ilmiah adalah suatu prosedur atau cara ternetu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesa yang ditentukan sebelumnnya. Metode ilmiah dipengaruhi unsure alam yang berubah dan bergerak secara dinamis dan teratur. Asas tunggal alam (natural law) menjadi salah satu sebab adanya ketertiban alam. Corak metode yang bersandar pada alam yang dinamis dan teratur menyebabkan lahirnya ilmu pengetahuan dengan sifat kecenderungan yang positivistic.
Ditemukannya metode berpikir ilmiah, secara langsung telah menyebabkan terjadinya ledakan kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Manusia tidak lagi berpangku tangan terhadap kehendak alam. Kesanggupan mengembangkan pengetahuan inilah letak perbedaan manusia dengan binatang. Jadi, nilai guna metode berpikir ilmiah adalah agar manusia terus menerus mengembangkan pengetahuan.
Metode ilmiah digunakan kaum terdidik untk memecahkan masalah. Lain dengan kaum awam. Mereka menggunakan cara kerja yang biasanya tidak sistematis dan sering bernuansa subjektif. Kaum terdidik menyelesaikan masalah dengan prosedur berpikir ilmiah dengan karakteristik yang bersifat rasional (deduktif) dan teruji secara empiris (induktif).
Sikap ilmiah merupakan bagian penting dari prosedur berpikir ilmiah yang meliputi enam karakteristik:
1. Rasa ingin tahu sebagai pemicu.
2. Spekulatif untuk menguji hipotesis.
3. Objektif.
4. keterbukaan untuk mempertimbangkan semua masukan yang relevan.
5. Kesediaan untuk menunda penilaian jika penyelidikan belum memperoleh bukti yang diperlukan.
6. Tentatif, tidak bersifat dogmatis terhadap hipotesis atau simpulan.
Untk mencapai apa yang disebut benar,seorang peneliti melakukan aktivitas ilmiah dengan beberapa langkah sebagai berikut:
1. Menyusun sesuatu yang disebut sebagai masalah.
2. Merumuskan masalah dalam bentuk yang operasional.
3. Menyusun hipotesa.
4. Menetapkan teknik dan menyusun instrument penelitian.
5. Mengumpulkan data yang diperlukan.
6. Melakukan analisa data.
7. Menggambarkan kesimpulan.
Dalam melaksanakan penelitian, para ilmuwan mempunyai dua aspek: individual dan sosial.
a. Aspek individual mengacu pada ilmu sebagai aktivitas ilmuwan.
b. Aspek sosial mengacu pada ilmu sebagai aktivitas suatu komunitas ilmiah dan kumpulan para ilmuwan.
BAB VI
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Kegiatan berpikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah. Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Berpikir ilmiah adalah berpikir dengan langkah-langkah metode ilmiah seperti: perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literature, menguji hipotesis, menarik kesimpulan. Semua langkah-langkah berpikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat/sarana yang baik sehingga diharapkan hasil berpikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat Bantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmia secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.
Ditinjau dari pola berpikir maka ilmu ilmu merupakan gabungan antara pola berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kea rah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peeranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan berpikir ilmiah tersebut.
Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana berpikir berupa: Bahasa, logika, matematika, dan statistic.
BAB VII
ETIKA
Etika adala salah satu unsure penting yang terdapat dalam teori nilai. Kata teori nilai yang terdiri dari dua kata yakni teore dan nilai itu, tampaknya merupakan terjemahan dari bahasa yunani: logos (akal dan teori0 dan aksios (nilai, atau suatu yang berharga).
Para ahli filsafat sering menyebut teori nilai sama dengan aksiologi. Seperti diketahui bahwa aksiologi merupakan bagian dari tiga cabanga besar Filsafat ilmu, yakni: ontology, epistemology, dan aksiologi. Aksiologi sering disebut sebagai ilmu yang melakukan penyelidikan mengenai kodrat, criteria dan status metafisik dari nilai.
Nilai memiliki cirri dan karakter khusus. Setidaknya, dalam catatan Filsafat ilmu, nilai memiliki tiga cirri, yaitu :
1. Nilai dan subjek
2. Sikap Praktis
3. Sikap Pandang Subjektif
BAB VIII
ESTETIKA
Estetika sering terkait dengan persoalan seni dan rasa keindahan. Estetika merupakan bagian dari tri tunggal, yakni teori tentang kebenaran (epistimologi), kebaikan dan keburukan (etika) dan keindahan itu sendiri (estetika).
Estetika berbicara mengenai hakikat keindahan. Selain itu estetika juga berbicara tentang teori mengenai seni, seni yang melukiskan bahasa dan perasaan.
Dengan demikian, estetika berarti suatu teori yang meliputi:
1. penyelidikan mengenai yang indah
2. Penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni
3. Pengalaman yang bertalian dengan seni, penciptaan seni, penilaian terhadap seni, atau perenungan terhadap seni.
BAB IX
BAHASA ILMIAH
Bahasa dicirikan sebagai:
1. Serangkaian bunyi yang digunakan sebagai alat komunikasi
2. Lambang dari serangkaian bunyi yang membentuk arti tertentu
Dengan bahasa manusia dapat mengkomunkasikan segenap pengalaman dan berpikir mereka. Pengalaman dan pemikiran yang berkembang membuat bahasa pun ikut berkembang.
Kemampuan bahasa adalah bagaimana anak mengkontruksi pengetahuannya dan bisa menyampaikan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan berbahasa adalah salah satu keunikan manusia.
Bahasa bagi manusia berfungsi sebagai:
1. Alat komunikasi atau fungsi komunikatif
2. Alat budaya, yang mempersatukan manusia yang menggunakan bahasa tersebut atau fungsi kohesif.
Di dalam fungsi komunikatif bahasa terdapat tiga unsur bahasa yang digunakan untuk menyampaikan : perasaan (unsure emotif), sikap (unsure afektif), dan buah pikiran (unsure penalaran). Perkembangan bahasa dipengaruhi ketiga unsur ini.
Perkembangan ilmu dipengaruhi oleh fungsi penalaran dan komunikasi bebas dari pengaruh unsure emotif. Sedangkan perkembangan seni dipengaruhi oleh unsure emotif dan afektif.
Syarat komunikasi ilmiah adalah ;
1. bahasa harus bebas emotif
2. reproduktif artinya komunikasinya dapat dimengerti oleh yang menerima
kekurangan bahasa terletak pada :
1. peranan bahasa yang multifungsi, artinya komunikasi ilmiah hanya menginginkan penyampaian buah pikiran atau penalaran saja, sedangkan bahasa verbal harus mengandung unsur emotif, afektif dan simbolik
2. arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang mengandung bahasa.
3. konotasi yang bersifat emosional
Minggu, 03 Januari 2010
JAWABAN IT
1. a. Perangkat keras (Hardware) adalah perangkat keras terdiri dari semua mesin dan peralatan pada sistem komputer. Perangkat keras mencakup keyboard,layar,printer,casing komputer, dan alat pemroses itu sendiri atau prosesor (CPU). Perangkat keras tidak berarti apa-apa jika tidak ada perangkat lunak.
b. Perangkat lunak ( Sofhware ) adalah terdiri dari intruksi-intruksi elektronik yang meminta komputer untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu. Intruksi-intruksi tersebut dibuat oleh pengembang perangkat lunak dalam bentuk tertentu (misalnya CD,disket,dsb) yang bisa diterima/dijalankan oleh komputer. Contohnya : Microsoft Windows dan Office XP.
2, Multimedia adalah diambil dari kata multi:banyak sedangkan media : media/perantara.jadi Multimedia adalah gabungan dari beberapa unsur yaitu teks, grafik, suara, video dan animasi yang menghasilkan presentasi yang menajubkan. Dan mempunyai komunikasi interaktif yang tinggi.bagi pengguna komputer multimedia dapat di artikan sebagai informasai komputer yang dapat di sajikan melalui audio atau video ,teks, grafik dan animasi untuk menyampaikan suatu informasi sehingga informasi itu tersaji dengan lebih baik.
3.O> Modem adalah singkatan dari Modulator DEModulator. Modulator merupakan bagian yang mengubah sinyal informasi kedalam sinyal pembawa (Carrier ) dan siap untuk dikirimkan , sedangkan Demodulator adalah bagian yang memisahkan sinyal informasi (yang berisi data atau pesan) dari sinyal pembawa (carrier) yang diterima sehingga informasi tersebut dapat diterima dengan baik. Modem merupakan penggabungan keduanya, artinya modem adalah alat kominikasi dua arah. Setiap perangkat komunikasi jarak jauh dua arah umumnya menggunakan bagian yang disebut ”modem”, Seperti VSAT, Microwave Radio, dls, namun umumnya istilah modem lebih di kenal sebagai Perangkat keras yang sering digunakan untuk komunikasi pada komputer.
O>RAM ( Random Acces Memory ) adalah salah satu memory didalam komputer yang bersifat sementara (apabila komputer dimatikan maka semua intruksi maupun data yang ada di memory akan hilang ) yang digunakan untuk menampung intruksi atau program, untuk memproses data-data yang telah diproses dan menunggu untuk dikirim ke output device, secondary storage atau juga communication devise. Sebagai contoh didalam task manager di bagian processes ada memory usage nah program2 itu disimpan sementara di dalam ram.
O> Hardisk adalah merupakam salah satu media penyimpan data pada computer yang terdiri dari kumpulan piringan magnetis yang keras dan berputar. Serta komponen-komponen elektrik lainnya. Hard disk menggunakna piringan data yang disebut dengan platter, yang pada kedua sisinya dilapisi fdengan suatu material yang dirancang agar bisa menyimpan informasi secara magnetis.
4. On line adalah tersambung,terhubung dengan jaringan pada saat yang bersamaan. Contoh : Bank BRI Online, Facebook, artinya pada saat yang sama kita bisa transaksi dari atau ke BRI, Facebook mana saja yang Online. Komunikasi on line banyak dipakai dalam bisnis,jasa, perorangan dan instusi pendidikan.
5. download adalah mengambil data atau file dari komputer server, bisa melalui jaringan internet bisa juga melalui jaringan lokal.
6. Koneksivitas adalah fondasi Era Informasi. Koneksitas menyediakan akses online pada informasi dan layanan yang tidak terhitung banyaknya. Koneksitas sebagai perluasan jaringan komputer telah memungkinkan, misalnya : email dan belanja online.
7. kegunaan password adalah untuk keamanan pengguna E Mail
8. Manfaat E mail adalah :
1. bisa up load(mengirim) n download(menerima)file-file
Misalnya : picture, video, music,data office,dll
2. berkirim pesan kayak surat pos tapi ini versi digital,cepat lagi, tanpa menunggu
Berhari-hari untuk baca isi surat dlm hitungan menit,kalau koneksi inernet cepat.
3. bisa sebagai organizer sama dalam fungsi handphone juga, bisa menyimpan no contact
Calendar dll.
4. ada fitur-fitur tersembunyi lainnya,jika di telesuri.
9. Blog adalah singkatan dari web log,yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997, Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri. Jadi secara garis besar Weblog dapat di artikan sebagai kumpulan website pribadi yang memungkinkan para pembuatnya menampilkan berbagai jenis isi pada web dengan mudah. Seperti karya tulis, kumpulan link internet, document-dokument( file-file Word.PDE,dll) gambar ataupun multimedia.
Para blogger ( pembuat blog ) adalah jurnalis atau penulis buku harian yang bisa menyajikan kehidupan seperti apa adanya,dengan kata-kata, foto, suara, maupun sentuhan seni.
10. Kelebihan dan Kekurangan IT dari dunia pendidikan adalah memudahkan proses belajar ,kita lihat IT adalah sesuatu yang universal, bahkan internet telah memasuki 99% kampus untuk tujuan akademik, sebagioan mahasiswa memanfaatkan email untuk membuat janji dengan Profesor (62%),mendiskusikan (58%) atau meminta penjelasan terhadap tugas (75%),hamper mahasiswa mengatakan bahwa mereka online untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.
Selain menggunakan internet dalam pengajaran kuliah, para dosen memanfaatkan perangkat lunak presentasi/semacam Microsoft Power Point untuk menampilkan bahan kuliah atau materinya. Salah satu perkembanagan yang cukup direspons positif adalah pembelajaran jarak jauh atau e-learning, sebuah nama untuk program pendidikan secara online.
11. http//isdulwebsite.blogspot.com/
Tutorial Microsoft Excel
Tua Namora Nainggolan dan Team Kursus Komputer Trainee Jepang
cokubear@yahoo.co.jp
I. Mengenal Microsoft Excel
Microsoft Excel, untuk selanjutnya disingkat Excel, adalah program aplikasi yang banyak digunakan untuk membantu menghitung, memproyeksikan, menganalisa, dan mempresentasikan data. Disini kita akan banyak bersinggungan dengan metode2 pembuatan tabel dan grafik yang sangat dibutuhkan sekali dalam penyusunan data2 perusahaan, hasil2 penelitian, maupun dalam pembuatan makalah pribadi.
II. Bekerja dengan Microsoft Excel
A. Lembar Kerja Microsoft Excel
Sebelum mulai memasuki pembahasan Microsoft Excel, ada baiknya kita mengenal lebih dulu bagaimana tampilan Microsoft Excel itu, beserta beberapa istilah2 umum yang akan digunakan. Beberapa istilah2 umum yang diberikan pada gambar dibawah ini akan banyak digunakan dalam pembahasan selanjutnya, sehingga akan lebih baik bila kita menghafalkannya dengan baik.
Gambar 1. Tampilan Microsoft Excel dan beberapa istilah penting
B. Memindahkan Penunjuk Sel (Cell Pointer)
Ada beberapa cara untuk memindahkan cell pointer. Untuk lengkapnya silahkan lihat table dibawah.
Tabel 1. Beberapa Cara Memindahkan Cell Pointer
Tombol Keterangan
Pindah satu sel ke kiri, kanan, atas atau bawah
Enter Pindah satu sel ke bawah
Home Pindah ke kolom A pada posisi baris yang aktif
Ctrl + Home Pindah ke sel A1 pada lembar kerja yang aktif
Ctrl + End Pindah ke posisi sel terakhir yang sedang digunakan
PgUp Pindah satu layer ke atas
PgDn Pindah satu layer ke bawah
Alt + PgUp Pindah satu layer ke kiri
Alt + PgDn Pindah satu layer ke kanan
Ctrl + PgUp Pindah dari satu tab lembar kerja ke tab lembar kerja berikutnya
Ctrl + PgDn Pindah dari satu tab lembar kerja ke tab lembar kerja sebelumnya
C. Memasukkan Data ke Lembar Kerja
Berbagai jenis data dapat dimasukkan ke dalam lembar kerja seperti teks, nilai, tanggal, jam dan lain sebagainya. Untuk memasukkan data ke dalam suatu sel, dapat mengikuti langkah berikut ini :
1. Pilih atau klik sel tempat anda akan memasukkan data
2. Ketikkan data yang ingin dimasukkan
3. Tekan Enter atau tombol arah panah atau tombol PgUp dan PgDn
D. Memperbaiki Kesalahan Pengetikan
Bila ada kesalahan pengetikan data, anda dapat memperbaikinya dengan mengikuti langkah2 berikut ini :
1. Pilih sel yang datanya ingin diperbaiki, lalu tekan F2. Atau klik tombol kiri maouse 2 kali pada sel yang datanya ingin diperbaiki.
2. Selanjutnya perbaiki data yang salah tersebut dan tekan tombol Enter bila sudah selesai.
E. Menggunakan Rumus
Anda dapat memasukkan rumus yang berupa instruksi matematika ke dalam suatu sel pada lembar kerja. Operator hitung yang dapat digunakan diantaranya adalah + (penjumlahan), -(pengurangan), * (perkalian), dan ^ (perpangkatan).
Untuk mengenali cara penggunaannya, terlebih dahulu marilah membuat table seperti gambar 2 dibawah ini.
Gambar 2. Tabel Upah Kerja
Untuk mengisi sel E5 yakni Total Upah yang Diterima, dapat ditempuh dengan beberapa cara.
① Menulis Rumus dengan Menggunakan Angka Tetap
a. Tempatkan penunjuk sel pada posisi yang diinginkan (dalam contoh ini E5)
b. Ketik rumus “=48*3500” pada kolom baris rumus dan tekan Enter.
Catatan : Penulisan rumus selalu diawali dengan lambng sama dengan (=).
② Menulis Rumus dengan Referensi Sel
a. Tempatkan penunjuk sel pada posisi yang diinginkan (dalam contoh ini E5)
b. Ketik rumus “=E3*E4” pada kolom baris rumus dan tekan Enter.
Catatan : Dengan menggunakan cara ini, bila data di sel E3 &(atau) E4 diubah, maka hasil di sel E5 pun akan ikut berubah.
③ Menulis Rumus dengan Cara Menunjuk
Dengan menggunakan keyboard atau mouse :
a. Tempatkan penunjuk sel pada posisi yang diinginkan (dalam contoh ini E5)
b. Ketik “=” pada kolom baris rumus
c. Pilih atau klik sel E3, lalu ketik “*”
d. Pilih atau klik sel E4 lalu tekan Enter.
F. Membuat Range/Blok Sel
Pada saat bekerja menggunakan Excel, kita tidak hanya bekerja dalam satu sel saja. Terkadang, anda akan bekerja dalam grup/kumpulan sel. Misalnya saja bila anda ingin merubah jenis huruf beberapa kolom dan (atau) baris, ingin merubah rumus beberapa kolom dan (atau baris), copy-paste atau mendelete data beberapa kolom dan(atau) baris, dll. Dalam kondisi2 seperti ini, anda dapat menggunakan range/blok sel ini untuk memudahkan kerja anda.
Range dinamakan menurut alamat sel di ujung kiri atas sampai ujung kanan bawah. Sebagai caontoh, range dari sel B2 sampai E7 dituliskan sebagai range B2:E7. (lihat Gambar 3).
Gambar3. Tampilan Range B2:E7
Range/blok sel dapat dibuat dengan beberapa cara :
① Membuat Range Menggunakan Tombol Shift
a. Tempatkan penunjuk sel awal range/bagian awal sel yang ingin diblok, yaitu B2 (lihat Gambar 3).
b. Sambil menekan Shift, tekan tombol anak panah sampai sel tujuan, yaitu E7
② Membuat Range Menggunakan Mouse**
a. Klik sel yang merupakan sel awal range, yaitu B2. Pointer/penunjuk mouse harus barada dalam keadaan tanda plus warna putih (tunjuk ke dalam sel, bukan tepi sel). (lihat Gambar 3).
b. Sambil tetap menekan klik kiri mouse, gerakkan mouse (drag) ke sel tujuan, yaitu sel E7.
③ Membuat Kolom atau Baris
Suatu kolom atau baris dapat disorot dengan mengklik huruf kolom atau nomor baris yang anda inginkan. Misalnya cukup klik huruf kolom B bilai ingin menyorot seluruh kolom B.
④ Menyorot Sederetan Kolom atau Baris
Untuk menyorot sederetan kolom (misalnya B, C, D) atau sederetan baris (misalnya 3, 4, 5) dapat dilakukan dengan mengikuti langkah berikut ini :
a. Klik di huruf kolom atau di nomor baris awal (di contoh ini adalah B atau 3)
b. Sambil tetap menekan tombol mouse kiri, geserlah(drag) pointer(penunjuk) mouse hingga menyorot seluruh baris itu (di contoh ini adalah D atau 5).
Gambar4. Menyorot Sederetan Kolom
G. Menghapus Data
Untuk menghapus data di suatu sel atau range tertentu, pindahkan sel ke, atau buatlah range tempat yang ingin dihapus, lalu tekan tombol Delete. Dan bila ingin menghapus format tampilan data/sel dapat dilakukan dengan memilih dan mengklik menu Edit, Clear, Formats.
H. Memasukkan Rangkaian Data dengan Fasilitas AutoFill
Untuk memasukkan data berupa angka atau teks dengan fasilitas AutoFill, dapat dilakukan dengan mengikuti langkah2 berikut ini :
1. Pilih/klik sel tempat posisi awal dari rangkaian data yang ingin anda buat. Misalnya pilih/klik sel B2.
2. Ketik data awal yang anda inginkan. Misalnya teks “Jan” (January)
3. Pada sel berikutnya (sel dibawah/B3 atau disampingnya/C2) ketik data berikutnya yang anda inginkan. Misalnya di B3 ketik “Feb” (February)
4. Sorot/bloklah B2:B3. (Lihat Gambar5)
Gambar5. Tampilan Data Awa
5. Dalam keadaan masih tersorot, arahkan penunjuk/pointer mouse ke pojok kanan bawah sel B3 hingga tanda plus putih berubah menjadi plus hitam
6. Tekanlah tombol kiri mouse dan geser/drag posisi pointer mouse ke sel yang diinginkan misalnya B12. Dengan ini rangkaian data angka dapat ditampilkan. Lihat Gambar 6.
Gambar6. Hasil Rangkaian Data dengan Teknik AutoFill
I. Menggunakan Fasilitas AutoCalculate dan AutoSum
① AutoCalculate
Fasilitas AutoCalculate (penghitungan otomatis) digunakan untuk melakukan penghitungan dengan cepat dan mudah dari data2 yang cukup banyak dalam suatu range tertentu. Didalam fasilitas AutoCalculate ini terdapat 6 buah perintah, yakni perintah otomatis untuk menghitung rata2 (Average), jumlah data (Count), banyak data angka (Count Nums), nilai max (Max), nilai min (Min), dan jumlah data angka (Sum).
Cara menggunakannya adalah sebagai berikut :
1. Sorot range data yang akan dikalkulasi/hitung. Misal sorot range C7:C12 dari data seperti dibawah ini.
Gambar7. Contoh Penggunaan AutoCalculate
2. Klik tombol kanan mouse di baris status, dan pilihlah jenis kalkulasi yang anda inginkan. Misalkan pilihlah Average(A) untuk menghitung rata2 data.
3. Hasilnya akan ditampilkan di baris status.
② AutoSum
Fungsi AutoCalculate diatas adalah untuk menghitung cepat data2 yang cukup banyak, tetapi tidak dapat menuliskan secara otomatis di lembar kerja anda. Khusus untuk penjumlahan (Sum), ada cara mudah lain untuk melakukannya yang sekaligus juga dapat langsung menuliskannya ke lembar kerja anda. Caranya adalah dengan menggunakan tombol toolbar AutoSum (Σ).
Misalnya dalam contoh diatas, bila kita ingin menuliskan total unit, letakkan pointer mouse ke tempat yang kita inginkan (misalnya C13), lalu tekan tombol Σ di toolbar. Selanjutnya sorot range yang ingin dijumlahkan (dalam contoh ini adalah C5:C10) dan tekan Enter.
Gambar8. Contoh Penggunaan AutoSum
LATIHAN SOAL
Buatlah lembar kerja daftar penjualan ponsel dari PT. SEJAHTERA menjadi seperti bentuk dibawah ini. Serta isi pulalah tempat kosong pada kolom dan baris JUMLAH.
Ketentuan Soal :
• Buat rangkaian nama bulan dengan menggunakan fasilitas AutoFill
• Hitung jumlah penjualan mobil setiap bulannya dan untuk setiap merk
• Simpanlah lembar kerja pada komputer dengan menggunakan nama file Latihan.XLS.
J. Mengatur Lebar Kolom
1. Mengatur Lebar Kolom Menggunakan Mouse
① Arahkan pointer mouse pada batas kanan kolom yang akan diubah hingga tanda plus warna putih berubah menjadi tanda panah dua arah.
Catatan : Bila ingin mengubah lebar sederet kolom, terlebih dahulu bloklah kolom yang akan diubah lebarnya, kemudian tempatkan pointer mouse ke batas kanan salah satu kolom tersebut.
② Klik tombol kiri mouse, dan sambil terus menekan mouse geser(drag)-lah mouse hingga lebar kolom sesuai yang diinginkan.
2. Mengatur Lebar Kolom Sesuai Data Terpanjang
① Arahkan pointer mouse pada batas kanan huruf kolom yang akan diubah lebarnya.
② Klik dua kali pada batas kolom. Lebar kolom akan mengikuti data terpanjang yang ada pada kolom seperti terlihat pada gambar9.
Gambar9. Mengubah Lebar Kolom Sesuai Data Terpanjang
K. Mengatur Tinggi Baris
① Arahkan pointer mouse pada batas bawah baris yang akan diubah hingga tanda plus warna putih berubah menjadi tanda panah dua arah.
Catatan : Bila ingin mengubah tinggi sederet baris, terlebih dahulu bloklah baris yang akan diubah tingginya, kemudian tempatkan pointer mouse ke batas bawah salah satu baris tersebut.
② Klik tombol kiri mouse, dan sambil terus menekan mouse, geser(drag)-lah mouse hingga tinggi baris sesuai yang diinginkan.
L. Mengatur Format Tampilan Huruf
Data yang ketikkan pada lembar kerja dapat ditampilkan dengan berbagai bentuk untuk memudahkan dan membuat variasi dalam lembar kerja anda. Bentuk huruf (font), ukuran huruf (size), garis bawah (underline), warna huruf (color) dan efek khusus lainnya dapat anda tambahkan dalam data anda.
Dua cara dalam melakukan format huruf dapat ditempuh melalui perintah yang ada di baris menu dan toolbar.
① Format Melalui Perintah di Baris Menu
a. Sorot sel atau range yang akan anda format
b. Pilih dan klik menu Format(O), Cells (CTRL+1), dan kotak dialog Format Cells akan ditampilkan
c. Pada kotak dialog Format Cells tersebut, klik tab Font.
d. Tambahkanlah efek khusus yang diinginkan pada teks dan klik OK.
Gambar10. Kotak Dialog Format Cells – Tab Font
② Format Melalui Toolbar
Tabel2. Jenis2 Perintah Toolbar untuk Melakukan Format Tampilan Huruf
Toolbar Jenis Perintah Keterangan Fungsi
Text Font Memilih bentuk huruf (font)
Font Size Mengubah ukuran huruf (size)
Bold Menampilkan huruf tebal (bold)
Italic Menampilkan huruf miring (italic)
Underline Memberi garis bawah (underline)
Font Color Memilih warna huruf (font color)
M. Meratakan Tampilan Data
Bila diperlukan, anda dapat mengatur tampilan data yang tersimpan pada suatu sel atau range tertentu agar posisinya ditampilkan rata kanan, kiri, di tengah sel atau di tengah beberapa kolom tertentu.
Ada 2 cara yang dapat ditempuh dalam melakukan perataan tampilan data ini, yakni dengan menggunakan perintah yang ada di baris menu dan toolbar.
① Meratakan Data dengan Peintah di Baris Menu
a. Sorotlah sel atau range yang akan anda ubah tampilan datanya
b. Pilih dan klik menu Format(O), Cells (CTRL+1) dan kotak dialog Format Cells akan ditampilkan
Gambar11. Kotak Dialog Format Cells – Tab Alignment
c. Pada kotak dialog tersebut, klik tab Alignment
d. Lakukan pemilihan sesuai keinginan anda pada kotak :
• Vertical : digunakan untuk memilih perataan secara vertical. Pilihan yang dapat dilakukan adalah Top (rata atas), Center (rata tengah), Bottom (rata bawah), Justify (seluruh data ditampilkan pada sel secara penuh).
• Horizontal : beberapa pilihan yang dapat dilakukan adalah :
General Huruf ditampilkan rata kiri dan angka rata kanan
Left (Indent) Data ditampilkan rata kiri
Center Data ditampilkan rata tengah
Right Data ditampilkan rata kanan
Fill Mengisi seluruh sel dengan mengulang data
Justify Data ditampilkan pada sel secara penuh
Center Across Selection Data ditampilkan di tengah2 beberapa kolom
• Orientation : untuk mengatur orientasi data dan derajat kemiringannya.
e. Klik OK
Gambar12. Contoh Tampilan Data Secara Horizontal
Gambar13. Contoh Tampilan Perataan Data dengan Kemiringannya
② Meratakan Data dengan Perintah pada Toolbar
Tabel 3. Perintah Meratakan Data pada Toolbar
Toolbar Perintah Keterangan
Align Left Data ditampilkan rata kiri
Center Data ditampilkan rata tengah
Align Right Data ditampilkan rata kanan
Merge and Center Menyambung beberapa kolom, dan menaruh data ditengah kolom baru tersebut
N. Menambahkan Garis Pembatas dan Bingkai
① Sorotlah sel atau buatlah range, tempat yang akan diberi bingkai
② Pilih dan klik menu Format(O), Cells (CTRL+1). Lalu klik tab border. Kotak dialog akan tampil seperti di bawah ini.
Gambar14. Kotak Dialog Format Cells – Tab Border
③ Pada bagian Presets, pilih dan klik salah satu tombol berikut :
• None, digunakan untuk menghapus garis pembatas dan bingkai
• Outline, digunakan untuk membuat bingkai disekeliling sel atau range
• Inside, digunakan untuk membuat garis pembatas didalam range
④ Pada bagian Border, pilih dan klik garis pembatas yang diinginkan
⑤ Pada kotak pilihan Style, pilih jenis garis yang diinginkan
⑥ Pada kotak pilihan Color, pilihlah jenis warna yang diinginkan
⑦ Gambar di bagian border adalah preview bingkai atau garis pembatas yang telah anda set. Klik OK bila sudah selesai.
Gambar15. Contoh Bentuk Garis Pembatas dan Bingkai
O. Menyisipkan Sel, Baris dan Kolom
Kadangkala kita perlu untuk menyisipkan baris atau kolom karena saat memasukkan/mengetikkan data, ternyata ada data2 yang terlewat. Langkah2 yang dapat ditempuh adalah seperti berikut ini :
① Sorotlah sel, atau buatlah range tempat sel, baris atau kolom baru akan disisipkan
② Pilih dan klik di baris menu :
• Insert, Rows untuk menyisipkan baris baru
• Insert, Column untuk menyisipkan kolom baru
• Insert, Cells untuk menyisipkan sel baru
Gambar15. Contoh Penyisipan 2 Buah Baris Pada Lembar Kerja
P. Menghapus Sel, Baris atau Kolom
Selain data yang terlewat, terkadang kita juga menemukan data2 yang mengalami penulisan dua kali. Untuk yang semacam ini, untuk memperbaiki penulisan data dapat ditempuh dengan menghapus sel, baris ataupun kolom.
① Sorot sel atau range tempat sel, baris atau kolom yang akan dihapus
② Pilih dan klik menu Edit, Delete. Kotak dialog Delete akan ditampilkan
③ Pilih dan klik salah satu pilihan berikut ini :
• Shift cells left, digunakan untuk menghapus isi sel atau range yang anda sorot dan menggantinya dengan data pada baris sama di sebelah kanannya.
• Shift cells up, digunakan untuk menghapus isi sel atau range yang anda sorot dan menggantinya dengan data pada kolom sama di sebelah bawahnya
• Entire row, digunakan untuk menghapus seluruh baris pada sel atau range yang anda sorot
• Entire column, digunakan untuk menghapus seluruh kolom pada sel atau range yang anda sorot
④ Klik OK
SOAL LATIHAN
Buatlah lembar kerja daftar upah harian dari PT. SUKA MAKMUR seperti ditampilkan dibawah ini. Masukkan pula isi dari WAKTU KERJA dan TOTAL UPAH yang masih kosong, serta kemudian ubahlah bentuknya menjadi bentuk table.
Ketentuan Soal :
• Waktu Kerja = Jam Keluar Jam Masuk
• Total Upah = Waktu Kerja * 24 * Tarif Upah/Jam
b. Perangkat lunak ( Sofhware ) adalah terdiri dari intruksi-intruksi elektronik yang meminta komputer untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu. Intruksi-intruksi tersebut dibuat oleh pengembang perangkat lunak dalam bentuk tertentu (misalnya CD,disket,dsb) yang bisa diterima/dijalankan oleh komputer. Contohnya : Microsoft Windows dan Office XP.
2, Multimedia adalah diambil dari kata multi:banyak sedangkan media : media/perantara.jadi Multimedia adalah gabungan dari beberapa unsur yaitu teks, grafik, suara, video dan animasi yang menghasilkan presentasi yang menajubkan. Dan mempunyai komunikasi interaktif yang tinggi.bagi pengguna komputer multimedia dapat di artikan sebagai informasai komputer yang dapat di sajikan melalui audio atau video ,teks, grafik dan animasi untuk menyampaikan suatu informasi sehingga informasi itu tersaji dengan lebih baik.
3.O> Modem adalah singkatan dari Modulator DEModulator. Modulator merupakan bagian yang mengubah sinyal informasi kedalam sinyal pembawa (Carrier ) dan siap untuk dikirimkan , sedangkan Demodulator adalah bagian yang memisahkan sinyal informasi (yang berisi data atau pesan) dari sinyal pembawa (carrier) yang diterima sehingga informasi tersebut dapat diterima dengan baik. Modem merupakan penggabungan keduanya, artinya modem adalah alat kominikasi dua arah. Setiap perangkat komunikasi jarak jauh dua arah umumnya menggunakan bagian yang disebut ”modem”, Seperti VSAT, Microwave Radio, dls, namun umumnya istilah modem lebih di kenal sebagai Perangkat keras yang sering digunakan untuk komunikasi pada komputer.
O>RAM ( Random Acces Memory ) adalah salah satu memory didalam komputer yang bersifat sementara (apabila komputer dimatikan maka semua intruksi maupun data yang ada di memory akan hilang ) yang digunakan untuk menampung intruksi atau program, untuk memproses data-data yang telah diproses dan menunggu untuk dikirim ke output device, secondary storage atau juga communication devise. Sebagai contoh didalam task manager di bagian processes ada memory usage nah program2 itu disimpan sementara di dalam ram.
O> Hardisk adalah merupakam salah satu media penyimpan data pada computer yang terdiri dari kumpulan piringan magnetis yang keras dan berputar. Serta komponen-komponen elektrik lainnya. Hard disk menggunakna piringan data yang disebut dengan platter, yang pada kedua sisinya dilapisi fdengan suatu material yang dirancang agar bisa menyimpan informasi secara magnetis.
4. On line adalah tersambung,terhubung dengan jaringan pada saat yang bersamaan. Contoh : Bank BRI Online, Facebook, artinya pada saat yang sama kita bisa transaksi dari atau ke BRI, Facebook mana saja yang Online. Komunikasi on line banyak dipakai dalam bisnis,jasa, perorangan dan instusi pendidikan.
5. download adalah mengambil data atau file dari komputer server, bisa melalui jaringan internet bisa juga melalui jaringan lokal.
6. Koneksivitas adalah fondasi Era Informasi. Koneksitas menyediakan akses online pada informasi dan layanan yang tidak terhitung banyaknya. Koneksitas sebagai perluasan jaringan komputer telah memungkinkan, misalnya : email dan belanja online.
7. kegunaan password adalah untuk keamanan pengguna E Mail
8. Manfaat E mail adalah :
1. bisa up load(mengirim) n download(menerima)file-file
Misalnya : picture, video, music,data office,dll
2. berkirim pesan kayak surat pos tapi ini versi digital,cepat lagi, tanpa menunggu
Berhari-hari untuk baca isi surat dlm hitungan menit,kalau koneksi inernet cepat.
3. bisa sebagai organizer sama dalam fungsi handphone juga, bisa menyimpan no contact
Calendar dll.
4. ada fitur-fitur tersembunyi lainnya,jika di telesuri.
9. Blog adalah singkatan dari web log,yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997, Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri. Jadi secara garis besar Weblog dapat di artikan sebagai kumpulan website pribadi yang memungkinkan para pembuatnya menampilkan berbagai jenis isi pada web dengan mudah. Seperti karya tulis, kumpulan link internet, document-dokument( file-file Word.PDE,dll) gambar ataupun multimedia.
Para blogger ( pembuat blog ) adalah jurnalis atau penulis buku harian yang bisa menyajikan kehidupan seperti apa adanya,dengan kata-kata, foto, suara, maupun sentuhan seni.
10. Kelebihan dan Kekurangan IT dari dunia pendidikan adalah memudahkan proses belajar ,kita lihat IT adalah sesuatu yang universal, bahkan internet telah memasuki 99% kampus untuk tujuan akademik, sebagioan mahasiswa memanfaatkan email untuk membuat janji dengan Profesor (62%),mendiskusikan (58%) atau meminta penjelasan terhadap tugas (75%),hamper mahasiswa mengatakan bahwa mereka online untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.
Selain menggunakan internet dalam pengajaran kuliah, para dosen memanfaatkan perangkat lunak presentasi/semacam Microsoft Power Point untuk menampilkan bahan kuliah atau materinya. Salah satu perkembanagan yang cukup direspons positif adalah pembelajaran jarak jauh atau e-learning, sebuah nama untuk program pendidikan secara online.
11. http//isdulwebsite.blogspot.com/
Tutorial Microsoft Excel
Tua Namora Nainggolan dan Team Kursus Komputer Trainee Jepang
cokubear@yahoo.co.jp
I. Mengenal Microsoft Excel
Microsoft Excel, untuk selanjutnya disingkat Excel, adalah program aplikasi yang banyak digunakan untuk membantu menghitung, memproyeksikan, menganalisa, dan mempresentasikan data. Disini kita akan banyak bersinggungan dengan metode2 pembuatan tabel dan grafik yang sangat dibutuhkan sekali dalam penyusunan data2 perusahaan, hasil2 penelitian, maupun dalam pembuatan makalah pribadi.
II. Bekerja dengan Microsoft Excel
A. Lembar Kerja Microsoft Excel
Sebelum mulai memasuki pembahasan Microsoft Excel, ada baiknya kita mengenal lebih dulu bagaimana tampilan Microsoft Excel itu, beserta beberapa istilah2 umum yang akan digunakan. Beberapa istilah2 umum yang diberikan pada gambar dibawah ini akan banyak digunakan dalam pembahasan selanjutnya, sehingga akan lebih baik bila kita menghafalkannya dengan baik.
Gambar 1. Tampilan Microsoft Excel dan beberapa istilah penting
B. Memindahkan Penunjuk Sel (Cell Pointer)
Ada beberapa cara untuk memindahkan cell pointer. Untuk lengkapnya silahkan lihat table dibawah.
Tabel 1. Beberapa Cara Memindahkan Cell Pointer
Tombol Keterangan
Pindah satu sel ke kiri, kanan, atas atau bawah
Enter Pindah satu sel ke bawah
Home Pindah ke kolom A pada posisi baris yang aktif
Ctrl + Home Pindah ke sel A1 pada lembar kerja yang aktif
Ctrl + End Pindah ke posisi sel terakhir yang sedang digunakan
PgUp Pindah satu layer ke atas
PgDn Pindah satu layer ke bawah
Alt + PgUp Pindah satu layer ke kiri
Alt + PgDn Pindah satu layer ke kanan
Ctrl + PgUp Pindah dari satu tab lembar kerja ke tab lembar kerja berikutnya
Ctrl + PgDn Pindah dari satu tab lembar kerja ke tab lembar kerja sebelumnya
C. Memasukkan Data ke Lembar Kerja
Berbagai jenis data dapat dimasukkan ke dalam lembar kerja seperti teks, nilai, tanggal, jam dan lain sebagainya. Untuk memasukkan data ke dalam suatu sel, dapat mengikuti langkah berikut ini :
1. Pilih atau klik sel tempat anda akan memasukkan data
2. Ketikkan data yang ingin dimasukkan
3. Tekan Enter atau tombol arah panah atau tombol PgUp dan PgDn
D. Memperbaiki Kesalahan Pengetikan
Bila ada kesalahan pengetikan data, anda dapat memperbaikinya dengan mengikuti langkah2 berikut ini :
1. Pilih sel yang datanya ingin diperbaiki, lalu tekan F2. Atau klik tombol kiri maouse 2 kali pada sel yang datanya ingin diperbaiki.
2. Selanjutnya perbaiki data yang salah tersebut dan tekan tombol Enter bila sudah selesai.
E. Menggunakan Rumus
Anda dapat memasukkan rumus yang berupa instruksi matematika ke dalam suatu sel pada lembar kerja. Operator hitung yang dapat digunakan diantaranya adalah + (penjumlahan), -(pengurangan), * (perkalian), dan ^ (perpangkatan).
Untuk mengenali cara penggunaannya, terlebih dahulu marilah membuat table seperti gambar 2 dibawah ini.
Gambar 2. Tabel Upah Kerja
Untuk mengisi sel E5 yakni Total Upah yang Diterima, dapat ditempuh dengan beberapa cara.
① Menulis Rumus dengan Menggunakan Angka Tetap
a. Tempatkan penunjuk sel pada posisi yang diinginkan (dalam contoh ini E5)
b. Ketik rumus “=48*3500” pada kolom baris rumus dan tekan Enter.
Catatan : Penulisan rumus selalu diawali dengan lambng sama dengan (=).
② Menulis Rumus dengan Referensi Sel
a. Tempatkan penunjuk sel pada posisi yang diinginkan (dalam contoh ini E5)
b. Ketik rumus “=E3*E4” pada kolom baris rumus dan tekan Enter.
Catatan : Dengan menggunakan cara ini, bila data di sel E3 &(atau) E4 diubah, maka hasil di sel E5 pun akan ikut berubah.
③ Menulis Rumus dengan Cara Menunjuk
Dengan menggunakan keyboard atau mouse :
a. Tempatkan penunjuk sel pada posisi yang diinginkan (dalam contoh ini E5)
b. Ketik “=” pada kolom baris rumus
c. Pilih atau klik sel E3, lalu ketik “*”
d. Pilih atau klik sel E4 lalu tekan Enter.
F. Membuat Range/Blok Sel
Pada saat bekerja menggunakan Excel, kita tidak hanya bekerja dalam satu sel saja. Terkadang, anda akan bekerja dalam grup/kumpulan sel. Misalnya saja bila anda ingin merubah jenis huruf beberapa kolom dan (atau) baris, ingin merubah rumus beberapa kolom dan (atau baris), copy-paste atau mendelete data beberapa kolom dan(atau) baris, dll. Dalam kondisi2 seperti ini, anda dapat menggunakan range/blok sel ini untuk memudahkan kerja anda.
Range dinamakan menurut alamat sel di ujung kiri atas sampai ujung kanan bawah. Sebagai caontoh, range dari sel B2 sampai E7 dituliskan sebagai range B2:E7. (lihat Gambar 3).
Gambar3. Tampilan Range B2:E7
Range/blok sel dapat dibuat dengan beberapa cara :
① Membuat Range Menggunakan Tombol Shift
a. Tempatkan penunjuk sel awal range/bagian awal sel yang ingin diblok, yaitu B2 (lihat Gambar 3).
b. Sambil menekan Shift, tekan tombol anak panah sampai sel tujuan, yaitu E7
② Membuat Range Menggunakan Mouse**
a. Klik sel yang merupakan sel awal range, yaitu B2. Pointer/penunjuk mouse harus barada dalam keadaan tanda plus warna putih (tunjuk ke dalam sel, bukan tepi sel). (lihat Gambar 3).
b. Sambil tetap menekan klik kiri mouse, gerakkan mouse (drag) ke sel tujuan, yaitu sel E7.
③ Membuat Kolom atau Baris
Suatu kolom atau baris dapat disorot dengan mengklik huruf kolom atau nomor baris yang anda inginkan. Misalnya cukup klik huruf kolom B bilai ingin menyorot seluruh kolom B.
④ Menyorot Sederetan Kolom atau Baris
Untuk menyorot sederetan kolom (misalnya B, C, D) atau sederetan baris (misalnya 3, 4, 5) dapat dilakukan dengan mengikuti langkah berikut ini :
a. Klik di huruf kolom atau di nomor baris awal (di contoh ini adalah B atau 3)
b. Sambil tetap menekan tombol mouse kiri, geserlah(drag) pointer(penunjuk) mouse hingga menyorot seluruh baris itu (di contoh ini adalah D atau 5).
Gambar4. Menyorot Sederetan Kolom
G. Menghapus Data
Untuk menghapus data di suatu sel atau range tertentu, pindahkan sel ke, atau buatlah range tempat yang ingin dihapus, lalu tekan tombol Delete. Dan bila ingin menghapus format tampilan data/sel dapat dilakukan dengan memilih dan mengklik menu Edit, Clear, Formats.
H. Memasukkan Rangkaian Data dengan Fasilitas AutoFill
Untuk memasukkan data berupa angka atau teks dengan fasilitas AutoFill, dapat dilakukan dengan mengikuti langkah2 berikut ini :
1. Pilih/klik sel tempat posisi awal dari rangkaian data yang ingin anda buat. Misalnya pilih/klik sel B2.
2. Ketik data awal yang anda inginkan. Misalnya teks “Jan” (January)
3. Pada sel berikutnya (sel dibawah/B3 atau disampingnya/C2) ketik data berikutnya yang anda inginkan. Misalnya di B3 ketik “Feb” (February)
4. Sorot/bloklah B2:B3. (Lihat Gambar5)
Gambar5. Tampilan Data Awa
5. Dalam keadaan masih tersorot, arahkan penunjuk/pointer mouse ke pojok kanan bawah sel B3 hingga tanda plus putih berubah menjadi plus hitam
6. Tekanlah tombol kiri mouse dan geser/drag posisi pointer mouse ke sel yang diinginkan misalnya B12. Dengan ini rangkaian data angka dapat ditampilkan. Lihat Gambar 6.
Gambar6. Hasil Rangkaian Data dengan Teknik AutoFill
I. Menggunakan Fasilitas AutoCalculate dan AutoSum
① AutoCalculate
Fasilitas AutoCalculate (penghitungan otomatis) digunakan untuk melakukan penghitungan dengan cepat dan mudah dari data2 yang cukup banyak dalam suatu range tertentu. Didalam fasilitas AutoCalculate ini terdapat 6 buah perintah, yakni perintah otomatis untuk menghitung rata2 (Average), jumlah data (Count), banyak data angka (Count Nums), nilai max (Max), nilai min (Min), dan jumlah data angka (Sum).
Cara menggunakannya adalah sebagai berikut :
1. Sorot range data yang akan dikalkulasi/hitung. Misal sorot range C7:C12 dari data seperti dibawah ini.
Gambar7. Contoh Penggunaan AutoCalculate
2. Klik tombol kanan mouse di baris status, dan pilihlah jenis kalkulasi yang anda inginkan. Misalkan pilihlah Average(A) untuk menghitung rata2 data.
3. Hasilnya akan ditampilkan di baris status.
② AutoSum
Fungsi AutoCalculate diatas adalah untuk menghitung cepat data2 yang cukup banyak, tetapi tidak dapat menuliskan secara otomatis di lembar kerja anda. Khusus untuk penjumlahan (Sum), ada cara mudah lain untuk melakukannya yang sekaligus juga dapat langsung menuliskannya ke lembar kerja anda. Caranya adalah dengan menggunakan tombol toolbar AutoSum (Σ).
Misalnya dalam contoh diatas, bila kita ingin menuliskan total unit, letakkan pointer mouse ke tempat yang kita inginkan (misalnya C13), lalu tekan tombol Σ di toolbar. Selanjutnya sorot range yang ingin dijumlahkan (dalam contoh ini adalah C5:C10) dan tekan Enter.
Gambar8. Contoh Penggunaan AutoSum
LATIHAN SOAL
Buatlah lembar kerja daftar penjualan ponsel dari PT. SEJAHTERA menjadi seperti bentuk dibawah ini. Serta isi pulalah tempat kosong pada kolom dan baris JUMLAH.
Ketentuan Soal :
• Buat rangkaian nama bulan dengan menggunakan fasilitas AutoFill
• Hitung jumlah penjualan mobil setiap bulannya dan untuk setiap merk
• Simpanlah lembar kerja pada komputer dengan menggunakan nama file Latihan.XLS.
J. Mengatur Lebar Kolom
1. Mengatur Lebar Kolom Menggunakan Mouse
① Arahkan pointer mouse pada batas kanan kolom yang akan diubah hingga tanda plus warna putih berubah menjadi tanda panah dua arah.
Catatan : Bila ingin mengubah lebar sederet kolom, terlebih dahulu bloklah kolom yang akan diubah lebarnya, kemudian tempatkan pointer mouse ke batas kanan salah satu kolom tersebut.
② Klik tombol kiri mouse, dan sambil terus menekan mouse geser(drag)-lah mouse hingga lebar kolom sesuai yang diinginkan.
2. Mengatur Lebar Kolom Sesuai Data Terpanjang
① Arahkan pointer mouse pada batas kanan huruf kolom yang akan diubah lebarnya.
② Klik dua kali pada batas kolom. Lebar kolom akan mengikuti data terpanjang yang ada pada kolom seperti terlihat pada gambar9.
Gambar9. Mengubah Lebar Kolom Sesuai Data Terpanjang
K. Mengatur Tinggi Baris
① Arahkan pointer mouse pada batas bawah baris yang akan diubah hingga tanda plus warna putih berubah menjadi tanda panah dua arah.
Catatan : Bila ingin mengubah tinggi sederet baris, terlebih dahulu bloklah baris yang akan diubah tingginya, kemudian tempatkan pointer mouse ke batas bawah salah satu baris tersebut.
② Klik tombol kiri mouse, dan sambil terus menekan mouse, geser(drag)-lah mouse hingga tinggi baris sesuai yang diinginkan.
L. Mengatur Format Tampilan Huruf
Data yang ketikkan pada lembar kerja dapat ditampilkan dengan berbagai bentuk untuk memudahkan dan membuat variasi dalam lembar kerja anda. Bentuk huruf (font), ukuran huruf (size), garis bawah (underline), warna huruf (color) dan efek khusus lainnya dapat anda tambahkan dalam data anda.
Dua cara dalam melakukan format huruf dapat ditempuh melalui perintah yang ada di baris menu dan toolbar.
① Format Melalui Perintah di Baris Menu
a. Sorot sel atau range yang akan anda format
b. Pilih dan klik menu Format(O), Cells (CTRL+1), dan kotak dialog Format Cells akan ditampilkan
c. Pada kotak dialog Format Cells tersebut, klik tab Font.
d. Tambahkanlah efek khusus yang diinginkan pada teks dan klik OK.
Gambar10. Kotak Dialog Format Cells – Tab Font
② Format Melalui Toolbar
Tabel2. Jenis2 Perintah Toolbar untuk Melakukan Format Tampilan Huruf
Toolbar Jenis Perintah Keterangan Fungsi
Text Font Memilih bentuk huruf (font)
Font Size Mengubah ukuran huruf (size)
Bold Menampilkan huruf tebal (bold)
Italic Menampilkan huruf miring (italic)
Underline Memberi garis bawah (underline)
Font Color Memilih warna huruf (font color)
M. Meratakan Tampilan Data
Bila diperlukan, anda dapat mengatur tampilan data yang tersimpan pada suatu sel atau range tertentu agar posisinya ditampilkan rata kanan, kiri, di tengah sel atau di tengah beberapa kolom tertentu.
Ada 2 cara yang dapat ditempuh dalam melakukan perataan tampilan data ini, yakni dengan menggunakan perintah yang ada di baris menu dan toolbar.
① Meratakan Data dengan Peintah di Baris Menu
a. Sorotlah sel atau range yang akan anda ubah tampilan datanya
b. Pilih dan klik menu Format(O), Cells (CTRL+1) dan kotak dialog Format Cells akan ditampilkan
Gambar11. Kotak Dialog Format Cells – Tab Alignment
c. Pada kotak dialog tersebut, klik tab Alignment
d. Lakukan pemilihan sesuai keinginan anda pada kotak :
• Vertical : digunakan untuk memilih perataan secara vertical. Pilihan yang dapat dilakukan adalah Top (rata atas), Center (rata tengah), Bottom (rata bawah), Justify (seluruh data ditampilkan pada sel secara penuh).
• Horizontal : beberapa pilihan yang dapat dilakukan adalah :
General Huruf ditampilkan rata kiri dan angka rata kanan
Left (Indent) Data ditampilkan rata kiri
Center Data ditampilkan rata tengah
Right Data ditampilkan rata kanan
Fill Mengisi seluruh sel dengan mengulang data
Justify Data ditampilkan pada sel secara penuh
Center Across Selection Data ditampilkan di tengah2 beberapa kolom
• Orientation : untuk mengatur orientasi data dan derajat kemiringannya.
e. Klik OK
Gambar12. Contoh Tampilan Data Secara Horizontal
Gambar13. Contoh Tampilan Perataan Data dengan Kemiringannya
② Meratakan Data dengan Perintah pada Toolbar
Tabel 3. Perintah Meratakan Data pada Toolbar
Toolbar Perintah Keterangan
Align Left Data ditampilkan rata kiri
Center Data ditampilkan rata tengah
Align Right Data ditampilkan rata kanan
Merge and Center Menyambung beberapa kolom, dan menaruh data ditengah kolom baru tersebut
N. Menambahkan Garis Pembatas dan Bingkai
① Sorotlah sel atau buatlah range, tempat yang akan diberi bingkai
② Pilih dan klik menu Format(O), Cells (CTRL+1). Lalu klik tab border. Kotak dialog akan tampil seperti di bawah ini.
Gambar14. Kotak Dialog Format Cells – Tab Border
③ Pada bagian Presets, pilih dan klik salah satu tombol berikut :
• None, digunakan untuk menghapus garis pembatas dan bingkai
• Outline, digunakan untuk membuat bingkai disekeliling sel atau range
• Inside, digunakan untuk membuat garis pembatas didalam range
④ Pada bagian Border, pilih dan klik garis pembatas yang diinginkan
⑤ Pada kotak pilihan Style, pilih jenis garis yang diinginkan
⑥ Pada kotak pilihan Color, pilihlah jenis warna yang diinginkan
⑦ Gambar di bagian border adalah preview bingkai atau garis pembatas yang telah anda set. Klik OK bila sudah selesai.
Gambar15. Contoh Bentuk Garis Pembatas dan Bingkai
O. Menyisipkan Sel, Baris dan Kolom
Kadangkala kita perlu untuk menyisipkan baris atau kolom karena saat memasukkan/mengetikkan data, ternyata ada data2 yang terlewat. Langkah2 yang dapat ditempuh adalah seperti berikut ini :
① Sorotlah sel, atau buatlah range tempat sel, baris atau kolom baru akan disisipkan
② Pilih dan klik di baris menu :
• Insert, Rows untuk menyisipkan baris baru
• Insert, Column untuk menyisipkan kolom baru
• Insert, Cells untuk menyisipkan sel baru
Gambar15. Contoh Penyisipan 2 Buah Baris Pada Lembar Kerja
P. Menghapus Sel, Baris atau Kolom
Selain data yang terlewat, terkadang kita juga menemukan data2 yang mengalami penulisan dua kali. Untuk yang semacam ini, untuk memperbaiki penulisan data dapat ditempuh dengan menghapus sel, baris ataupun kolom.
① Sorot sel atau range tempat sel, baris atau kolom yang akan dihapus
② Pilih dan klik menu Edit, Delete. Kotak dialog Delete akan ditampilkan
③ Pilih dan klik salah satu pilihan berikut ini :
• Shift cells left, digunakan untuk menghapus isi sel atau range yang anda sorot dan menggantinya dengan data pada baris sama di sebelah kanannya.
• Shift cells up, digunakan untuk menghapus isi sel atau range yang anda sorot dan menggantinya dengan data pada kolom sama di sebelah bawahnya
• Entire row, digunakan untuk menghapus seluruh baris pada sel atau range yang anda sorot
• Entire column, digunakan untuk menghapus seluruh kolom pada sel atau range yang anda sorot
④ Klik OK
SOAL LATIHAN
Buatlah lembar kerja daftar upah harian dari PT. SUKA MAKMUR seperti ditampilkan dibawah ini. Masukkan pula isi dari WAKTU KERJA dan TOTAL UPAH yang masih kosong, serta kemudian ubahlah bentuknya menjadi bentuk table.
Ketentuan Soal :
• Waktu Kerja = Jam Keluar Jam Masuk
• Total Upah = Waktu Kerja * 24 * Tarif Upah/Jam
KRITERIA KEPEMIMPINAN
BAB I
PENDAHULUAN
Pemimpin merupakan tugas yang sangat berat, karena seorang pemimpin itu mempunyai tanggungjawab moral yang sangat besar, bukan saja dihadapan manusia atau rakyat yang dipimpinnya, tetapi juga dihadapan Allah Swt. Pemimpin adalah orang yang posisinya didepan dan bertanggungjawab terhadap orang yang dipimpinnya. Secara azasi setiap orang bisa menjadi pemimpin, dan hakekatnya setiap orang itu adalah pemimpin. Sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw.
Artinya : “Dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi Saw. Bersabda : Ingatlah setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinya, Pejabat adalah pemimpin bagi rakyatnya dan dia akan dimintai pertnaggungjawabannya, seorang bapak adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya, seorang ibu adalah pemimpin bagi suami dan anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya, dan seorang budak juga pemimpin atas harta majikannya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya, ingat setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimimpinannya,” (H.R. Bukhori).
Hadist di atas menjelaskan bahwa setiap orang yang menjadi pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah Swt. Seorang pejabat adalah pemimpin bagi rakyatnya, seorang Bapak pemimpin bagi keluarganya, seorang ibu juga pemimpin dalam rumah tangganya, seorang ulama pemimpin bagi umatnya, dan seorang guru juga adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Oleh karena itu setiap individu baik laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang untuk menjadi seorang pemimpin.
Dalam Al-Qur’an juga dijealskan tentang pedoman yang menyangkut kriteria seorang pemimpin yang boleh dan yang tidak boleh dipilih. Salah satu yang paling mendasar tentang kriteria yang boleh dijadikan sebagai seorang pemimpin adalah harus orang yang beriman, dan Allah melarang memilih pemimpin orang yang tidak beriman (kafir).
BAB II
KRITERIA SEORANG PEMIMPIN
DALAM PERSFEKTIF AL QUR’AN
A. Arti Pemimpin
Didalam Al Qur’an pemimpin disebut juga khaliah yang artinya pengganti. Sebagaimana Allah berfiman dalam kitab-Nya yaitu surat Al Baqarah ayat 30 :
Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." ......
Pemimpin sering disebut juga dengan kata “Wali” atau ‘Auliya” yang berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an surat al maidah ayat 55 :
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).(QS. Al Maidah : 55).
Dan masih banyak lagi dalam Al Qur’an maupun hadist kata yang mengandung arti pemimpin, seperti Amir, Sulthan Imam, dll.
B. Cara Memilih Seorang Pemimpin
Pemilihan pemimpin dapat terpenuhi apabila sebagian besar kaum muslimin sepakat atau dengan pencalonan dari kalangan para penasehat negara atau lembaga yang berwenang dalam penyelenggaraan negara seperti Majlis Permusyawaratan Umat, sebagai bentuk aplikasi prinsip permusyawaratan sebagai aturan hukum dalam islam, sebagaimana firmana Allah :
“…..dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka”. (QS. Asysyura : 38).
Berdasarkan Al Fiqhul Islami Wa’adillathu, Dr. Wahbah Az Zuhaili, jilid 6/hal.699.
Dari ayat tersebut di aats dapat ditafsirkan bahwa cara memilih pemimpin menurut islam adalah dilakukan dengan jalan musyawarah, sebab dengan musyawarah segala urusan akan mudah tercapai.
C. Syarat Seorang Pemimpin
Syarat utama seorang pemimpin berdasarkan ayat-ayat didalam Al Qur’an adalah harus orang yang beriman. Di antaranya dijelaskan dal Al Qur’an :
1. Surat An Nisa Ayat 144
144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali [368] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?
[368] wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong.
Dalam penjelasan tafsir ini, bahwa Allah Swt. Melarang hamba-hamba-Nya yang mu’min untuk mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan mengesampingkan sesama mu’minnya. Menjadikan merka kawan-kawan dekat, penasehat-penasehatnya, saling cinta mencintai dengan mereka serta membuka rahasia dan hal ikhwal orang mu’min kepada mereka. Allah menegur dengan pertanyaan : “Apakah kamu dengan berkawan dengan orang-orang afir itu hendak memberi alasan nyata kepada Allah untuk menjatuhkan siks-Nya dan azab-Nya kepadamu ? (tafsir Ibnu katsir hal. 587).
Sementara itu, penjelasan dalam tafsir Al Maraghi (hal. 317 – 319), dikatakan bahwa setelah mencela kaum munafik, bahwa orang-orang yang bimbang, tidak mempunyai pendirian, kadang-kadanag bersatu dengan kaum mu’min dan kadang-kadang bersatu dengan kaum kafior, selanjutnya Allah memperingatkan kepada kaum mu’min agar tidak mengikuti perbuatan mereka, dan kaum mu’min yang lemah tidak mengangkat orang-orang kafir menjadi wali dengan mengabaikan orang-orang mu’min, hanya karena mencari kekuatan disisi mereka dan mengharapkan keuntungan.
Penjelasan potongan ayat :
Yang dimaksud wali disini ialah pemberian pertolongan, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan yang mengundang bahaya bagi kaum mu’minin.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, dalam ayat yang lain :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Al Maidah : 51)
Adapun mempekerjakan kaum Dzimmy didalam pemerintahan Islam adalah tidak dilarang. Para Shahabat Nabi Saw. Pernah mempekerjakan mereka dikantor-kantor amiriyah (keamiran), dan Abu Ishab Ash – Shaby pernah dijadikan Wazir (menteri) dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah.
As-Sulthan berarti hujjah dan keterangan Al Mubin berarti yang nyata. Makna ayat, apakah kalian ingin agar Allah mempunyai alasan yang nyata untuk menyiksa kalian, apabila kalian menjadikan mereka sebagai wali dengan mengabaikan kaum mu’minin ? sesungguhnya perbuatan itu hanya dilakukan oleh kaum munafik.
Ad-Darku atau Ad – Daraku berarti tingkatan yang paling rendah dari apda tingkatan yang lainnya. Jika lebih tinggi darinya, maka dinamakan Ad-Darajah. Neraka mempunyai tujuh Darakah (tingkatan). Dikatakan demikian karena tingkatan itu susul menyusul.. Ayat ini mengisyarakan bahwa tempat penyiksaan di akhirat mempunyai tingkatan yang sebagiannya lebih rendah dari pada sebagian yang lain. Sebagaimana halnya surga mempunyai beberapa tingkatan yang sebagiannya lebih tinggi dari pada sebagian yang lainnya.
Kaum munafik ditempatan pada tingkatan neraka yang paling rendah karena mereka merupakan penghuni neraka yang paling jahat. Hal itu disebabkan merkea menyatukan antara kekufuran dengan kemunafikan, disampin menipu rasul dan kaum mu’minin. Maka ruh dan jiwa mereka itu paling rendah. Oleh sebab itu mereka adalah manusia yang paling patut ditempatkan pada tingkatan neraka yang paling rendah.
Adapun kebanyakan dari kaum telah ditutup oleh ketidaktahuannya tentang hakikat tauhid. Mereka disamping beriman kepada Alla, juga menyekutukan-Nya dengan yang lain, seperti berhala dan patung yang mereka mengkiaskan hal itu dengan perlakuan terhadap para raja yang diktator dan para amir yang dzalim.
Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan bagi mereka seorang penolongpun yang akan menyelamatkan mereka dari azab atau meringankannya, lalu mengangkat mereka dari tingkat terendah ke tingkat yang paling atas.
2. Surat Ali Imran Ayat 118
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh Telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.(QS. Ali Imran : 118)
Ditafsirkan dalam kitab Shofwatut Tfsir (hal. 224) yakni janganlah engkau jadikan orang-orang munafik sebagai teman kepercayaan kalian, menyukai mereka dan kalian perlihatkan kepada mereka segala rahasia kalian, bahkan kalian jadikan mereka tidak akan pernah berhenti membuat kerusakan bagi kalian, mereka juga mengharap agar kalian berada dalam kesulitan dan apa yang dapat menjerumuskan kalian pada bahaya yang besar, sungguh telah jelas tanda-tanda permusuhan mereka terhadap kalian dari hati mereka sampai mereka mengucapkan dengan mulut mereka, padahal yang mereka sembunyikan untuk kalian dalam kebencian lebih banyak dari apa yang mereka nyatakan.
Ibnu katsir menjelaskan : bahwa Allah Swt. Berfirman sambil melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari menjadikan orang-orang munafik menjadi teman kepercayaan, mereka memperlihatkan kepada mereka rahasia mereka dan apa yang mereka sembunyikan untuk musuh-musuh mereka, padahal orang-orang munafik dengan segala kemampuan dan kekuatan mereka, merkea tidak akan berhenti mencelakai orang-orang yang beriman, yakni berusaha untuk menentang mereka dan apa yang dapat membahayakan mereka dengan berbagai kemungkinan, dan dengan kemampuan mereka untuk membuat makar atau tipu daya dan mereka menginginkan apa-apa yang dapat menyulitkan orang-orang yang beriman dan memberatkan mereka.
Dari potongan ayat diatas dapat diambil pengertian bahwa Ahlu Adz Dzimmah (Non Muslim yang dalam perlindungan) tidak dipakai dalam tugas pencatatan yang didalamnya terdapat penelitian terhadap kaum muslimi, dan mengamati privasi (kebebasan) urusan mereka yang dikhawatirkan akan mempublikasikannya kepada musuh-musuh dari ahli harb (orang-orang yang memerangi islam), oleh karena itu Allah berfirman dalam lanjutan ayat-Nya.
Yakni orang-orang munafik menyukai perbuatan yang memojokanmu dan memberatkanmu.
Dan dalam potongan ayat selanjutnya.
Yakni telah nampak sekali diwajah-wajah mereka dan ucapan-ucapan mereka suatu permusuhan, begitu juga dengan apa yang tersembunyikan dalam hati-hati mereka dari kebencian dan apa yang tidak tersembunyi bagi yang mengetahuinya lebih besar lagi, oleh karena itu Allah berfirman dalam lanjutan ayat-Nya :
..... telah kami jelaskan tanda-tandanya jika kalian memahami
BAB III
KESIMPULAN
Memilih Pemimpin adalah suatu keharusan yang tidak dapat disanggah lagi bagi setiap mu’min. Baik berdasarkan syari’at Islam maupun berdasarkan logikal akal sehat, agar tidak dikuasai oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Swt. Dan rasul-Nya. Karena Allah Swt. Secara tegas melarang orang-orang yang beriman mengankat atau mengambil orang-orang yang tidak beriman (kafir) untuk tidak dijadikan sebagai pemimpin dan wali bagi orang-orang yang beriman.
??????????Wa Allahu ‘Alam Bil Muradihi??????????
PENDAHULUAN
Pemimpin merupakan tugas yang sangat berat, karena seorang pemimpin itu mempunyai tanggungjawab moral yang sangat besar, bukan saja dihadapan manusia atau rakyat yang dipimpinnya, tetapi juga dihadapan Allah Swt. Pemimpin adalah orang yang posisinya didepan dan bertanggungjawab terhadap orang yang dipimpinnya. Secara azasi setiap orang bisa menjadi pemimpin, dan hakekatnya setiap orang itu adalah pemimpin. Sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw.
Artinya : “Dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi Saw. Bersabda : Ingatlah setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinya, Pejabat adalah pemimpin bagi rakyatnya dan dia akan dimintai pertnaggungjawabannya, seorang bapak adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya, seorang ibu adalah pemimpin bagi suami dan anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya, dan seorang budak juga pemimpin atas harta majikannya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya, ingat setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimimpinannya,” (H.R. Bukhori).
Hadist di atas menjelaskan bahwa setiap orang yang menjadi pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah Swt. Seorang pejabat adalah pemimpin bagi rakyatnya, seorang Bapak pemimpin bagi keluarganya, seorang ibu juga pemimpin dalam rumah tangganya, seorang ulama pemimpin bagi umatnya, dan seorang guru juga adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Oleh karena itu setiap individu baik laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang untuk menjadi seorang pemimpin.
Dalam Al-Qur’an juga dijealskan tentang pedoman yang menyangkut kriteria seorang pemimpin yang boleh dan yang tidak boleh dipilih. Salah satu yang paling mendasar tentang kriteria yang boleh dijadikan sebagai seorang pemimpin adalah harus orang yang beriman, dan Allah melarang memilih pemimpin orang yang tidak beriman (kafir).
BAB II
KRITERIA SEORANG PEMIMPIN
DALAM PERSFEKTIF AL QUR’AN
A. Arti Pemimpin
Didalam Al Qur’an pemimpin disebut juga khaliah yang artinya pengganti. Sebagaimana Allah berfiman dalam kitab-Nya yaitu surat Al Baqarah ayat 30 :
Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." ......
Pemimpin sering disebut juga dengan kata “Wali” atau ‘Auliya” yang berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an surat al maidah ayat 55 :
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).(QS. Al Maidah : 55).
Dan masih banyak lagi dalam Al Qur’an maupun hadist kata yang mengandung arti pemimpin, seperti Amir, Sulthan Imam, dll.
B. Cara Memilih Seorang Pemimpin
Pemilihan pemimpin dapat terpenuhi apabila sebagian besar kaum muslimin sepakat atau dengan pencalonan dari kalangan para penasehat negara atau lembaga yang berwenang dalam penyelenggaraan negara seperti Majlis Permusyawaratan Umat, sebagai bentuk aplikasi prinsip permusyawaratan sebagai aturan hukum dalam islam, sebagaimana firmana Allah :
“…..dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka”. (QS. Asysyura : 38).
Berdasarkan Al Fiqhul Islami Wa’adillathu, Dr. Wahbah Az Zuhaili, jilid 6/hal.699.
Dari ayat tersebut di aats dapat ditafsirkan bahwa cara memilih pemimpin menurut islam adalah dilakukan dengan jalan musyawarah, sebab dengan musyawarah segala urusan akan mudah tercapai.
C. Syarat Seorang Pemimpin
Syarat utama seorang pemimpin berdasarkan ayat-ayat didalam Al Qur’an adalah harus orang yang beriman. Di antaranya dijelaskan dal Al Qur’an :
1. Surat An Nisa Ayat 144
144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali [368] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?
[368] wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong.
Dalam penjelasan tafsir ini, bahwa Allah Swt. Melarang hamba-hamba-Nya yang mu’min untuk mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan mengesampingkan sesama mu’minnya. Menjadikan merka kawan-kawan dekat, penasehat-penasehatnya, saling cinta mencintai dengan mereka serta membuka rahasia dan hal ikhwal orang mu’min kepada mereka. Allah menegur dengan pertanyaan : “Apakah kamu dengan berkawan dengan orang-orang afir itu hendak memberi alasan nyata kepada Allah untuk menjatuhkan siks-Nya dan azab-Nya kepadamu ? (tafsir Ibnu katsir hal. 587).
Sementara itu, penjelasan dalam tafsir Al Maraghi (hal. 317 – 319), dikatakan bahwa setelah mencela kaum munafik, bahwa orang-orang yang bimbang, tidak mempunyai pendirian, kadang-kadanag bersatu dengan kaum mu’min dan kadang-kadang bersatu dengan kaum kafior, selanjutnya Allah memperingatkan kepada kaum mu’min agar tidak mengikuti perbuatan mereka, dan kaum mu’min yang lemah tidak mengangkat orang-orang kafir menjadi wali dengan mengabaikan orang-orang mu’min, hanya karena mencari kekuatan disisi mereka dan mengharapkan keuntungan.
Penjelasan potongan ayat :
Yang dimaksud wali disini ialah pemberian pertolongan, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan yang mengundang bahaya bagi kaum mu’minin.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, dalam ayat yang lain :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Al Maidah : 51)
Adapun mempekerjakan kaum Dzimmy didalam pemerintahan Islam adalah tidak dilarang. Para Shahabat Nabi Saw. Pernah mempekerjakan mereka dikantor-kantor amiriyah (keamiran), dan Abu Ishab Ash – Shaby pernah dijadikan Wazir (menteri) dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah.
As-Sulthan berarti hujjah dan keterangan Al Mubin berarti yang nyata. Makna ayat, apakah kalian ingin agar Allah mempunyai alasan yang nyata untuk menyiksa kalian, apabila kalian menjadikan mereka sebagai wali dengan mengabaikan kaum mu’minin ? sesungguhnya perbuatan itu hanya dilakukan oleh kaum munafik.
Ad-Darku atau Ad – Daraku berarti tingkatan yang paling rendah dari apda tingkatan yang lainnya. Jika lebih tinggi darinya, maka dinamakan Ad-Darajah. Neraka mempunyai tujuh Darakah (tingkatan). Dikatakan demikian karena tingkatan itu susul menyusul.. Ayat ini mengisyarakan bahwa tempat penyiksaan di akhirat mempunyai tingkatan yang sebagiannya lebih rendah dari pada sebagian yang lain. Sebagaimana halnya surga mempunyai beberapa tingkatan yang sebagiannya lebih tinggi dari pada sebagian yang lainnya.
Kaum munafik ditempatan pada tingkatan neraka yang paling rendah karena mereka merupakan penghuni neraka yang paling jahat. Hal itu disebabkan merkea menyatukan antara kekufuran dengan kemunafikan, disampin menipu rasul dan kaum mu’minin. Maka ruh dan jiwa mereka itu paling rendah. Oleh sebab itu mereka adalah manusia yang paling patut ditempatkan pada tingkatan neraka yang paling rendah.
Adapun kebanyakan dari kaum telah ditutup oleh ketidaktahuannya tentang hakikat tauhid. Mereka disamping beriman kepada Alla, juga menyekutukan-Nya dengan yang lain, seperti berhala dan patung yang mereka mengkiaskan hal itu dengan perlakuan terhadap para raja yang diktator dan para amir yang dzalim.
Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan bagi mereka seorang penolongpun yang akan menyelamatkan mereka dari azab atau meringankannya, lalu mengangkat mereka dari tingkat terendah ke tingkat yang paling atas.
2. Surat Ali Imran Ayat 118
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh Telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.(QS. Ali Imran : 118)
Ditafsirkan dalam kitab Shofwatut Tfsir (hal. 224) yakni janganlah engkau jadikan orang-orang munafik sebagai teman kepercayaan kalian, menyukai mereka dan kalian perlihatkan kepada mereka segala rahasia kalian, bahkan kalian jadikan mereka tidak akan pernah berhenti membuat kerusakan bagi kalian, mereka juga mengharap agar kalian berada dalam kesulitan dan apa yang dapat menjerumuskan kalian pada bahaya yang besar, sungguh telah jelas tanda-tanda permusuhan mereka terhadap kalian dari hati mereka sampai mereka mengucapkan dengan mulut mereka, padahal yang mereka sembunyikan untuk kalian dalam kebencian lebih banyak dari apa yang mereka nyatakan.
Ibnu katsir menjelaskan : bahwa Allah Swt. Berfirman sambil melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari menjadikan orang-orang munafik menjadi teman kepercayaan, mereka memperlihatkan kepada mereka rahasia mereka dan apa yang mereka sembunyikan untuk musuh-musuh mereka, padahal orang-orang munafik dengan segala kemampuan dan kekuatan mereka, merkea tidak akan berhenti mencelakai orang-orang yang beriman, yakni berusaha untuk menentang mereka dan apa yang dapat membahayakan mereka dengan berbagai kemungkinan, dan dengan kemampuan mereka untuk membuat makar atau tipu daya dan mereka menginginkan apa-apa yang dapat menyulitkan orang-orang yang beriman dan memberatkan mereka.
Dari potongan ayat diatas dapat diambil pengertian bahwa Ahlu Adz Dzimmah (Non Muslim yang dalam perlindungan) tidak dipakai dalam tugas pencatatan yang didalamnya terdapat penelitian terhadap kaum muslimi, dan mengamati privasi (kebebasan) urusan mereka yang dikhawatirkan akan mempublikasikannya kepada musuh-musuh dari ahli harb (orang-orang yang memerangi islam), oleh karena itu Allah berfirman dalam lanjutan ayat-Nya.
Yakni orang-orang munafik menyukai perbuatan yang memojokanmu dan memberatkanmu.
Dan dalam potongan ayat selanjutnya.
Yakni telah nampak sekali diwajah-wajah mereka dan ucapan-ucapan mereka suatu permusuhan, begitu juga dengan apa yang tersembunyikan dalam hati-hati mereka dari kebencian dan apa yang tidak tersembunyi bagi yang mengetahuinya lebih besar lagi, oleh karena itu Allah berfirman dalam lanjutan ayat-Nya :
..... telah kami jelaskan tanda-tandanya jika kalian memahami
BAB III
KESIMPULAN
Memilih Pemimpin adalah suatu keharusan yang tidak dapat disanggah lagi bagi setiap mu’min. Baik berdasarkan syari’at Islam maupun berdasarkan logikal akal sehat, agar tidak dikuasai oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Swt. Dan rasul-Nya. Karena Allah Swt. Secara tegas melarang orang-orang yang beriman mengankat atau mengambil orang-orang yang tidak beriman (kafir) untuk tidak dijadikan sebagai pemimpin dan wali bagi orang-orang yang beriman.
??????????Wa Allahu ‘Alam Bil Muradihi??????????
Langganan:
Postingan (Atom)
